KOTAKU

KOTA CIREBON TEMPO DOELOE……..

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ratusan bangunan berusia di atas 100 tahun di Kota Cirebon, Jawa Barat, terancam hilang. “Dari data yang ada, saat ini di Kota Cirebon ada sekitar 147 bangunan kuno yang usianya sudah di atas 100 tahun,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Budaya dan Olahraga Kota Cirebon, Abidin Aslich, Rabu, 6 Juli 2011.

Ratusan bangunan tersebut, menurut Abidin, kebanyakan milik pribadi atau kelompok tertentu. Hingga kini ratusan bangunan itu belum dimasukkan dalam Surat Keputusan (SK) Wali Kota Cirebon Nomor 19 Tahun 2001 tentang Cagar Budaya. “Sampai saat ini baru ada 6 bangunan yang sudah dimasukkan dalam SK tersebut,” katanya.

Adapun keenam bangunan tersebut di antaranya Balai Kota Cirebon, Gedung BAT, bangunan keraton serta sejumlah sekolah di Kota Cirebon.
Pihaknya hingga kini belum bisa memasukkan ratusan bangunan kuno tersebut ke dalam SK Wali kota tentang Cagar Budaya karena harus ada konsekuensi dari SK tersebut. Di antaranya dengan memberikan bantuan pemeliharaan kepada pemilik bangunan. “Kami punya dana dari mana? Dana kami sangat terbatas,” katanya. Karena itu, kondisi bangunan tua tersebut sangat tergantung dari keinginan dan kemauan dari pemiliknya untuk memeliharanya.

Abidin mengungkapkan pihaknya baru bisa memberikan dana sebesar Rp 500 juta yang dibagi untuk 4 keraton. “Namun sejumlah keraton seperti Keraton Kasepuhan juga mendapatkan dana untuk pemeliharaan dari pemerintah pusat,” katanya. Tahun lalu, kata dia, Keraton Kasepuhan mendapatkan dana sebesar Rp 1,8 miliar, sedangkan tahun ini memperoleh Rp 5 miliar.

Saat ini,sejumlah kelompok masyarakat sudah mengajukan sejumlah situs sebagai bangunan cagar budaya. Di antaranya masjid merah, makam panjang, makam Gi Gede Cangkring. “Secara usia, memang sudah pantas situs tersebut masuk cagar budaya. Saat ini sedang dikaji,”

Sementara itu budayawan Cirebon, Nurdin M Noer, menyayangkan jika ratusan bangunan kuno di Kota Cirebon sampai hilang. “Harus secepatnya ada kepedulian dari pemerintah, baik daerah maupun pusat untuk turun tangan mengatasinya,” katanya.

Nurdin pun tidak menginginkan ada bangunan kuno yang hilang dan dihancurkan, serta beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan. “Contoh 3 bangunan kuno di Jalan Karanggetas yaitu eks gedung Korem, gedung Polwil dan gedung Denpom yang merupakan bangunan kuno peninggalan Belanda sudah berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan,” katanya.

Padahal keberadaan bangunan kuno, menurut Nurdin, bisa menjadi daya tarik pariwisata. “Kan sesuai dengan moto Kota Cirebon sebagai kota jasa dan perdagangan,” katanya. Namun motto tersebut tidak ditunjang dengan kelayakan tempat wisatanya. “Di Jakarta dan Semarang punya kota tua, kita di sini punya apa,” katanya.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sanggar Anak Tangguh

Strong Children Strong Nation

What Planners Do

The Few, The Proud, The Planner

kalipaksi dot com

Melu Memayu Hayuning Bawono

ARDAN SIRODJUDDIN

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan pendidikan Indonesia

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

%d blogger menyukai ini: