Beranda > Uncategorized > Pengalaman Menggunakan Bahasa Indonesia

Pengalaman Menggunakan Bahasa Indonesia

Salah satu kegiatan saya adalah berjualan ke berbagai daerah sekitar kota tempat saya bermukim. Berikut salah satu pengalaman dalam menggunakan Bahasa Indonesia, ketika berjualan ke satu pasar yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari ibukotaGambar kabupaten, di daerah propinsi Jawa Barat. Ketika itu, saya berjualan seperti biasa, masuk ke beberapa pasar. Dan memenuhi kebutuhan para pelanggan saya. Suatu ketika saat saya sedang memilah barang sesuai permintaan para pelanggan, di areal parkir. Saya kedatangan seorang ibu, yang belum saya kenal. Artinya belum menjadi pelanggan saya. Tanpa berpikir panjang dan tanya sana-sini, dia langsung memilih dan memilah barang yang bertumpuk di depan saya. Setelah selesai memilih, lantas dia bertanya menggunakan bahasa lokal (bahasa jawa), kalau kata orang bahasa jawa halus. Itu membuatku terdiam tanpa bisa menjawab. Karena belum begitu memahami maksudnya. Setelah itu, saya mencoba menggunakan Bahasa Indonesia, tetapi dia tetap menggunakan bahasa lokal. Kali ini terjadi perdebatan layaknya perdebatan di tivi-tivi (tanpa emosi tentunya) memperdebatkan harga dan penawaran suatu barang, tapi menggunakan 2 bahasa sekaligus, tanpa ada titik temu. Karena antara si penjual (saya) dan orang yang membeli, terpaksa seolah-olah seperti di persimpangan jalan. Karena tidak ada titik temu satu sama lain. Ditanya B, dijawab A, ditanya A, dijawab B, begitu seterusnya, tanpa ada kesepahaman maksud dan tujuan pembicaraan, sama-sama bingung. Selang berapa lama, rupanya ada yang memperhatikan perdebatan kami yang cukup a lot itu. Yaitu seorang tukang parkir, yang sedari tadi memperhatikan dan hanya tersenyum kecil. Sejenak si bapak tukang parkir, berbicara kepada si ibu. Akhirnya diketahui bahwa si ibu jarang menggunakan Bahasa Indonesia, karena bahasa sehari-hari selalu menggunakan bahasa lokal/daerah. Tetapi karena belum saya pahami, akhirnya menimbulkan kesan yang berbeda. Setelah dapat penjelasan, si ibu memahami maksud saya, dan saya pun memahami kebutuhan dan kemaun si ibu. Perdebatan usai dan akhirnya menambah pelanggan baru. Sungguh kesan yang cukup berarti, khususnya buat saya secara pribadi. Kejadian pada saat itu, memberi pelajaran kepada saya, bahwa ternyata, penggunaan Bahasa itu cukup penting, khususnya Bahasa Indonesia. Karena dengan bahasa tersebut, dapat menjembatani perbedaan kultur dan kondisi yang ada. Menjadi sangat penting dalam keseharian, terutama bagi kita yang tinggal di daerah dan bersinggungan langsung dengan saudara-saudara yang masih jarang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai media komunikasi sehari-harinya. Juga memberi pemahaman, bahwa ternyata, di luar sana masih banyak saudara-saudara kita se-bangsa yang belum bisa/jarang menggunakan bahasa persatuan kita. Selayaknya Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa telah menjadi satu kekuatan untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa kita. Kiranya dengan adanya pelajaran Bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dapat lebih membumikan Bahasa Indonesia di tanah air tercinta. Dan menjadi alat komunikasi yang efektif untuk menyampaikan kebutuhan, keinginan dan perasaan kita kepada orang diluar diri kita sendiri.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sanggar Anak Tangguh

Strong Children Strong Nation

What Planners Do

The Few, The Proud, The Planner

kalipaksi dot com

Melu Memayu Hayuning Bawono

ARDAN SIRODJUDDIN

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan pendidikan Indonesia

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

%d blogger menyukai ini: