Beranda > Uncategorized > PERUMAHAN MEWAH

PERUMAHAN MEWAH

Tumbuhnya perumahan mewah yang eksklusif serta   memiliki fasilitas lengkap dan memenuhi hajat hidup bagi penghuninya, merupakan gejala di kota-kota besar. Tetapi apakah kebutuhan ruhaninya juga bisa terpenuhi, atau justru sebaliknya, mengingat bahwa faktor duniawi di perumahan mewah sangat dominan. Lantas bagaimana kehidupan para penghuni perumahan mewah atau perumahan eksklusif tersebut, apakah mereka menempuh kehidupan beragama secara individual, ataukah mereka  mengembangkan jamaah di perumahan elite, bagaimana solusinya? 

Untuk kasus Indonesia, tumbuhnya ruang hunian berkembang melalui dua cara. Pertama berkembang secara liar atau alami, dan yang kedua berkembang melalui pola rancangan. Lebih baik yang mana? Dibiarkan secara alami atau harus dirancang secara ketat?

saat ini kebutuhan lahan untuk hunian makin meningkat, proses pertumbuhan hunian yang dulu alami, sekarang harus dikontrol karena beberapa hunian (baik yang alami maupun yang ada di kota-kota besar) harus diatur dan ditata untuk menjaga kepentingan publik. Agar semua kepentingan publik itu bisa terwadahi tanpa mematikan kreasi dan inovasi dalam pembangunannya.

Tumbuhnya ruang hunian atau permukiman yang berkembang dengan pola rancangan, bisa memunculkan kota mandiri, perumahan mewah dan eksklusif. Apakah hal ini tidak menyuburkan disintegrasi dan kesenjangan sosial? Apakah mungkin dicari alternatif agar disintegrasi dan kesenjangan dapat di cegah atau dikurangi?

Ruang hunian yang dibiarkan tumbuh dan tanpa diatur itu justru bisa menimbulkan kesenjangan. Realitasnya akan ada kesenjangan spasial dan pada akhirnya bisa memicu konflik-konflik sosial. Jadi konflik itu bisa terjadi akibat adanya kesenjangan spasial, dan kesenjangan spasial itu terjadi karena pemerintah membangun infrastruktur dan kebutuhan -kebutuhan hidup untuk masyarakat menengah ke atas, sementara tanpa atau tidak memberikan perhatian dan resourses kepada masyarakat bawah atau masyarakat miskin, sehingga bisa menimbulkan dikotomi yang sangat kontras antara penghuni masyarakat perumahan mewah dengan komunitas di sekitarnya. Dan hal ini sangat berbahaya, karena adanya kerusuhan-kerusuhan ataupun ledakan, itu terjadi karena adanya kesenjangan spasial.

Salah satu contoh, ketika terjadi banjir di Jakarta tempo hari, banyak penduduk miskin di pantai utara marah, kemudian menjebol tembok-tembok yang mengelilingi perumahan mewah dan eksklusif, sebab penduduk menganggap bahwa hadirnya perumahan di bekas tanah berawa dengan tembok-temboknya itulah yang menyebabkan banjir dan membuat penduduk miskin menderita. Apakah konflik lingkungan seperti ini sesungguhnya dapat dicegah? Mengapa selalu penduduk atau rakyat miskin yang menjadi korban dari tumbuhnya hunian berpola rancangan tersebut?

Intervensi pemerintah yang berbentuk peraturan-peraturan itu bisa diorientasikan untuk mengarahkan penataan kota atau hunian yang tidak menimbulkan ketimpangan. Orang mau membangun real estate itu harusa mengacu pada aturan 3,6,l artinya setiap membangun satu perumahan mewah harus membangun 3 perumahan menengah dan enam perumahan kelas bawah. Konsep 3,6,l itu  adalah konsep yang sangat sederhana, supaya tidak menimbulkan gejolak dan ketimpangan, jadi konsep itu tidak menganaktirikan bagi rakyat biasa, semua mendapatkan kemudahan baik perizinan tanah, fasilitas penerangan air bersih dan lain-lain.

Kasus Malang Selatan dan Bandung Utara, juga kasus di Semarang Barat, hutan lindung dan tanah yang semula diposisikan sebagai penyerap hutan makin habis karena munculnya perumahan-perumahan mewah yang eksklusif semakin banyak. Hal ini berimplikasi berubahnya suhu kota Bandung dan Malang jadi bertambah panas, juga menimbulkan kerawanan banjir. Apakah bencana lingkungan semacam ini masih mungkin untuk dicegah? Lewat solusi apa, solusi hukum atau sosial?

Penanganannya harus holistik, dan harus diupayakan ada sinergi dengan berbagai instrumen-instrumen managemen lahan atau kota, dan kita kelompokkan misalnya instrumen hukum, ekonomi, sosial  dan instrumen pendataan langsung dari pemerintah. Selama ini kita hanya mengandalkan instrumen hukum. Asumsinya kota tersebut sudah dibuat rencana sebelumnya, padahal hukum itu kan bisa dibengkokkan. Yang harus diberdayakan adalah instrumen sosial termasuk kontrol sosial, bagaimana protes-protes sosial itu difasilitasi dan diakomodasi. Kemudian yang paling penting lagi adalah instrumen ekonomi, modelnya adalah insentif dan disinsentif atau tawar menawar dalam penataan lingkungan supaya tertib dan nyaman.

Apakah mungkin kita merancang dan membangun ruang hunian atau pemukiman yang kondusif bagi pengembangan kehidupan beragama?

Kita jangan terjebak, bahwa ibadah itu tidak hanya hubungan vertikal saja. Kalau vertikal saja solusinya agak sulit, karena tidak mungkin satu lingkungan hunian itu bisa homogen, ada mesjidnya, setiap rumah ada mushollanya. itu hanya satu dimensi saja dari kehidupan beragama. Yang lebih penting adalah di samping yang vertikal juga ada konteks horisontalnya yakni keadilan sosial. Jadi yang lebih penting adalah adanya keadilan sosial daripada membangun masjid, atau tempat ibadah lain. Masjid sudah dibangun besar-besar kalau jama’ahnya sedikit dan kadang kosong kan sia-sia. Kurang setuju kalau ada bangunan Masjid di satu hunian hanya sebagai sebuah monumen. Kenapa tidak dibangun saja pusat-pusat kegiatan (ke-Islam-an) dalam lingkup kecil yang multi fungsi di masing-masing komplek perumahan. Ini yang dimaksud dengan keadilan spasial, buat apa Masjid dibangun kalau tidak bisa melayani komunitas masyarakat di sekitarnya. Tetapi kalau Masjid itu bisa melayani komunitas lingkungannya, akan bermanfaat bagi kehidupan di perumahan dan lingkungan hunian sekitarnya.

Apakah ruang hunian yang kondusif bagi pengembangan kehidupan beragama itu harus dirancang secara eksklusif seperti Islamic Village?

Agak sangsi dengan rancangan seperti Islamic Village. Sebab sekarang ini kita hidup dalam masyarakat yang pluralis, sangat terbuka seluas-luasnya. Bahkan pembentukan beberapa komunitas dalam bentuk pendidikan yang sangat eksklusif yang berbau agama tertentu, itu juga kurang strategis. Yang paling baik adalah kita masuk dan membaur dengan kehidupan masyarakat yang plural, supaya hal-hal yang akan kita dakwahkan/sampaikan itu bisa langsung pada sasaran dan diterima oleh mereka. Kalau dibuat rancangan komunitas yang Muslim saja, itu malah bisa menimbulkan suasana eksklusif, walaupun baik tetapi tidak bisa dilihat oleh komunitas lain. Padahal komunitas Islam itu harus bisa merujuk supaya bisa hidup berdampingan dengan masyarakat non Muslim, agar mereka bisa belajar dan bisa meniru bahwa kehidupan orang Muslim itu bisa dicontoh dan di tiru oleh masyarakat luas tidak terbatas pada orang muslim saja. Tetapi Islamic Village itu juga bagus hanya sebagai kawah condrodimuko saja, setelah berhasil segera berbaur dengan komunitas lingkungannya.

Mengapa banyak pengembang dan perancang ruang hunian yang tidak memperhatikan kebutuhan ruhani penghuninya, tanpa fasilitas tempat ibadah misalnya. Apakah ruang hunian atau pemukiman itu memang dirancang untuk kehidupan warga yang sekuler?

Memang ada unsur-unsur sekulernya, karena aspek-aspek religious kurang diparhatikan, karena proses pembangunan hunian itu di pengaruhi oleh market atau pasar. Termasuk developer kadang sering nakal, karena tidak hanya tempat ibadah fasilitas umum misalnya taman bermain anak-anak, jalan, fasilitas untuk olah raga terkadang tidak ada. Dan nampak hanya pertimbangan ekonomi semata yang dibangun oleh developer, karena ruang bagi mereka adalah merupakan komoditas ekonomi, apalagi membangun tempat peribadatan di lokasi atau hunian sangat minim sekali dan terkadang pihak developer mencari lahan sisa yang kurang strategis untuk tempat peribadatan. Tidak secara awal di rancang atau dialokasikan atau di plot untuk tempat ibadah.

Apa yang dapat dilakukan oleh umat Islam ketika harus berdakwah di lingkungan perumahan mewah atau perumahan eksklusif dan tertutup seperti itu, dan bagaimana memahami watak, perilaku dan respon penghuninya agar supaya dakwah menjadi lebih mudah dilakukan?

Sekarang ada kegiatan dakwah melalui internet, yang mengakses adalah para penghuni perumahan-perumahan mewah dan eksklusif. Dan yang menarik lagi adalah bagi kaum selebritis, mereka  banyak mengikuti pengajian-pengajian di hotel-hotel atau apartemen mewah sudah cukup marak. Bahkan di kantor-kantor juga di selenggarakan pengajian berkala yang audiennya cukup banyak, mereka bisa  mengundang penceramah-penceramah yang bagus. Tetapi mereka yang mengadakan pengajian secara ekslusif, walaupun itu sah-sah saja, kurang tepat, karena agama itu merupakan multi fungsi termasuk mensejahterakan masyarakat secara keseluruhan.

Apakah penghuni perumahan mewah itu hanya mau mengikuti dakwah secara tidak langsung misalnya melalui TV, buku, Radio, keping VCD, Internet, Film dan lain-lain. Ataukah mereka sebenarnya juga membutuhkan sentuhan langsung atau dakwah tatap muka, bisakah lingkungan mereka itu bisa dijadikan lokasi dakwah tatap muka, padahal sebahagian mereka beranggapan bahwa rumah adalah ruang privat yang tidak boleh diterobos orang lain, meski oleh ustadz sekalipun?

Selama ini memang gejalanya demikian, bahwa rumah bagi mereka adalah ruang privasi yang tidak boleh diganggu untuk acara apapun termasuk tertutup bagi tamu atau orang asing yang belum dikenalnya termasuk tamu yang akan promosi sebuah produk misalnya. Jadi mereka lebih senang mengadakan konsinyasi atau pertemuan apa saja termasuk pengajian di hotel-hotel, dan biasanya mereka mengadakan pertemuan atau pengajian dengan teman-teman seprofesinya yang terbatas. Bahkan memang banyak juga yang mengkuti acara pengajian lewat TV, Radio, VCD, Internet dan lain sebagainya. Mereka lebih senang mendengarkan atau melihat VCD untuk siraman ruhaninya. Sekarang ini kan banyak kaset-kaset dan VCD yang berisi ceramah agama yang di isi oleh mubaligh ternama. Sehingga mereka tidak perlu lagi datang ke majelis pengajian di lingkungan sosialnya. Hal yang demikian sebenarnya secara implisit tidak benar, karena itu perlu adanya aturan dari pemerintah agar rancangan perumahan mewah itu ada fasilitas ibadahnya, agar umat beragama yang tinggal di perumahan itu tidak eksklusif dan tertutup dengan komunitas lingkungannya.

Sumber: Suara Muhammadiyah Edisi 20-02


Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sanggar Anak Tangguh

Strong Children Strong Nation

What Planners Do

The Few, The Proud, The Planner

kalipaksi dot com

Melu Memayu Hayuning Bawono

ARDAN SIRODJUDDIN

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan pendidikan Indonesia

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

%d blogger menyukai ini: