Beranda > Uncategorized > Pembangunan = Dakwah untuk Masyarakat

Pembangunan = Dakwah untuk Masyarakat

Dakwah secara umum dapat diberi pengertian sebagai upaya untuk menyeru kepada keridhaan Allah SWT. Berdasarkan hal ini dapat ditafsirkan bahwa Dakwah merupakan suatu usaha guna meningkatkan harkat kehidupan manusia dalam lingkungan yang mengitarinya, baik secara rohaniah maupun jasmaniah. Intinya, untuk meraih kesejahteraan.
Kata lainnya, Dakwah tidak hanya semata-mata proses mengenalkan manusia kepada Tuhannya, melainkan juga merupakan sebuah proses transformasi sosial, dengan sejumlah tawaran dan alternatif solusi-solusi bagi umat dalam mengatasi masalah kehidupan yang mereka hadapi. Sebagaimana strategi dan pendekatan komprehensif yang pernah dikembangkan oleh Rasulullah SAW manakala mendesain dan menggerakkan program serta agenda Dakwah yang bermuatan pengembangan atau pemberdayaan umat serta bewawasan pembebasan.

Sementara. itu di sisi lain, masyarakat sasaran Dakwah sangatlah heterogen, mereka terdiri dari kalangan intelektul, pejabat, pengusaha sampai rakyat jelata. Ada laki-laki, ada perempu’an, ada orang tua, remaja, dan ada anak-anak, ada masyarakat kota (urban) dan ada masyarakat desa (rural), disamping masyarakat marginal, yang sering terlupakan, dengan berbagai problem kehidupan yang mereka hadapi. Senyatanya, bahwa ternyata Dakwah selama ini tidak/belum/kurang menyentuh kelompok-kelompok ‘masyarakat terpinggirkan (marginal) sebagai salah satu subjek dan juga obyek dakwah. Selaku masyarakat marginal yang terpinggirkan, jelas, proses dakwah sangat diharapkan untuk mengangkat citra, martabat, dan memperbaiki derajat kehidupan serta kesejahteraan. Dalam berbagai bidang, fisik, sosial, ekonomi, budaya, pemerintahan, agama dan juga lingkungan.

Kelompok masyarakat yang menjadi obyek dakwah dengan sejumlah ciri khas, karakteristik dan lain sebagainya, membutuhkan dai~  atau pelaku pembangunan kultur yang relatif berbeda dengan kelompok masyarakat obyek Dakwah lainnya. Metode, teknik, strategi maupun pendekatan Dakwah yang diterapkan untuk masyarakat juga berbeda dan memiliki ciri khusus dari yang lain. Karena itu pemberian ruang gerak yang lebih luas dan penekanan terhadap metode Dakwah bil-amal atau bil-hal menjadi sangat penting dan signifikan disamping metode Dakwah yang lain. Dakwah bil-hal yaitu metode Dakwah yang lebih menekankan pada amal usaha atau karya nyata yang bisa dinikmati dan bisa mengangkat harkat, martabat, kesejahteraan hidup kelompok masyarakat. Model strategi Dakwah bil-amal ini dilakukan melalui proses dan hasil karya nyata bagi masyrakat. Bertujuan untuk menjadikan masyarakat sebagai masyarakat yang terberdaya dalam kehidupan, baik secara fisik, agama, ekonomi, sosial, budaya maupun politik.

Mengapa harus Dakwah bil=amal atau bil-hal?

Jika ditelaah lebih mendalam, akan didapati bahwa sebagian besar usaha pengembangan atau pembangunan masyarakat (community development) atau pemberdayaan masyarakat (social empowerment) di daerah perdesaan atau di negara-negara yang sedang berkembang, masih bersifat mentransfer teknologi, memindahkan produk budaya suatu masyarakat ke masyarakat yang lain.

Sehingga secara tajam Paulo Freire-tokoh pendidikan dari brazil menggambarkan bahwa transfer  tersebut sebagai inovasi kebudayaan seharusnya berjalan secara berkesinambungan, pihak superior membantu pihak inferior, masyarakat kaya membantu masyarakat miskin, golongan kuat membantu golongan lemah, kelompok berpengaetahuan membantu kelompok yang awam. Namun jika diteliti lebih jauh ternyata bantuan dan pertolongan tersebut dianggap tidak mendidik, bersifat eksploitatif, tidak profesional dan tidak memberi peluang untuk memahami, mempertimbangkan, atau memilih. Sehingga orientasi pendekatan dalam rangka dakwah atau pembangunan atau pengembangan syarakat perlu diubah kearah dan strategi yang lebih baik dan mampu mendewasakan masyarakat.

Menurut Dawam Raharjo (dalam Ade Ma’ruf dan Zulfan Heri, 1995) masalah terpokok dan mendasar yang menyangkut kehidupan rakyat banyak saat ini salah satunya adalah kemiskinan. Yakni kemiskinan struktural, yang sering dikatakan timbul akibat sistem eksploitatif yang bersifat menghisap.

Untuk menanggulangi masalah ini perlu dilaksanakan dakwah masyarakat yang berwawasan Dakwah bil-hal, yakni kegiatan Dakwah yang lebih diarahkan kepada gerakan nyata dakwah, yang sifatnya pemberdayaan “empowering”.

Karena itu pendekatan dan strategi pengembangan Dakwah bil-amal atau bil-hal terhadap pengembangan masyarakat marginal cukup relevan. Menurut Asep Muhyidin dan Agus Ahmad Safei (2002:54) ada empat model metode pengembangan Dakwah yang bisa diterapkan dan harus dilaksanakan secara sinergis, simultan, terkoordinasi dan berkesinambungan, yakni tadbir, tathwir, irsyad dan tabligh/ta’lim. Keempatnya menghendaki keterlibatan da’i secara langsung dalam pengentasan kemiskinan dan solusi dari beragam persoalan kehidupan yang mereka hadapi.

  1. Tadbir

Tadbir adalah Dakwah melalui dakwah dan manajemen dakwah masyarakat yang dilakukan dalam rangka perekayasaan sosial dan pemberdayaan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), pranata sosial keagamaan serta menumbuhkan pengembangan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat dengan kegiatan pokok seperti penyusunan kebijakan, perencanaan program, pembagian tugas dan pengorganisasian, pelaksanaan dan monitoring serta pengevaluasian dalam dakwah masyarakat dari aspek perekonomian dan kesejahteraannya.  Dengan kata lain tadbir berkaitan dengan Dakwah melalui dakwah untuk menjawab kebutuhan dan tantangan zaman.

  1. Tathwir

Tathwir dilakukan sebagai upaya pemberdayaan ekonomi keumatan, yakni pengembangan masyarakat.

Pertama tathwir dilakukan dalam rangka peningkatan sosial budaya masyarakat melalui upaya pentransformasian dan pelembagaan nilai-nilai ajaran islam dalam realitas kehidupan masyarakat luas seperti kegiatan humaniora, seni budaya, penggalangan ukhuwah islamiyah, pemeliharaan lingkungan, kesehatan dan lain-lain. Dengan kata lain tathwir berkaitan dengan kegiatan Dakwah melalui pendekatan washilah sosial budaya atau Dakwah kultural.

Kedua, melalui program jaring pengaman sosial (sosial safety net) yang lebih menyentuh persoalan kebutuhan primer dan berorientasi pada kesetiakawanan serta keperdulian sosial.

Ketiga, melalui pemberdayaan (empowerment) fungsi institusi-institusi sosial dalam menangani problematika kehidupan masyarakat.

Keempat, melalui upaya kondisioning dalam pemahaman, sikap dan persepsi tentang keberagaman dan dakwah manusia seutuhnya.

Kelima, membentuk atau melalui upaya kerjasama dengan panti-panti rehabilitasi sosial, seperti panti jompo, panti anak yatim dan terlantar, program anak asuh, dakwah rumah singgah yang aman dan nyaman untuk anak-anak jalanan dan sebagainya.

  1. Irsyad

Irsyad merupakan upaya-upaya Dakwah yang dilakukan dalam bentuk penyuluhan dan konseling islam. Dakwah model ini dilakukan dalam rangka pemecahan masalah sosial (problem solving) psikologis melalui kegiatan pokok bimbingan dan konseling pribadi, keluarga dan masyarakat luas baik secara preventif maupun kuratif.

Mengapa hal ini harus dilakukan? Sebab Dakwah mestinya bisa memberi jawaban dan solusi jitu atas ragam persoalan yang melanda kehidupan masyarakat.

Jika Paulo Friere pernah mengemukakan gagasan brilian tentang pendidikan yang membebaskan bagi manusia” maka semestinya Dakwah pun  harus berorientasi pada “Dakwah” yang membebaskan manusia dari ragam persoalan kehidupan. Terlebih bagi manusia yang hidup di zama modern sekarang ini, menurut analisis sosiolog problem hidup manusia sekarang tidak keluar dari apa yang dinamakan oleh sosiolog Lyman sebagai angkara murka, kesombongan diri, iri hati/ dengki, rakus dan lahap (jalaluddin rahmat, 1997:225). Ketujuh persoalan ini pada prinsipnya lebih bersifat kultural psikologis, dalam hal ini agama (melalui pendekatan Dakwah) harus ditransformasikan secara akurat agar bisa menjawab berbagai problem dan tantangan budaya kontemporer dimaksud.

Itulah sebabnya, fokus dan sentra tema Dakwah tidak lagi hanya sekadar dialog tentang halal-haram, baik-buruk, wajib-sunnah dan seterusnya. Akan tetapi Dakwah juga harus bisa digandengkan dengan berbagai persoalan lain yang lebih aktual, misalnya upaya dalam meningkatkan kesejahteraan (perekonomian) hidup umat, penguasaan ilmu dan teknologi, informasi dan komunikasi, kesehatan jiwa dan mental, ketenteraman dan kedamaian, dan sebagainya. Dakwah mestinya hadir dalam berbagai lingkup dan dimensi, baik sebagai upaya pencerahan, pengembangan dakwah, maupun pemberdayaan umat. Sebab pada intinya Dakwah tidak semata-mata proses mengenalkan manusia kepada Tuhannya, melainkan juga merupakan sebuah proses transfomasi sosial, yang berisikan sejumlah tawaran dan alternatif solusi bagi umat dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan yang merekahadapi.

Dengan demikian jelaslah bahwa Dakwah yang diarahkan kepada problem solving menjadi deteminant untuk digali dan dilaksanakan. Sebab sebagaimana yang dijelaskan Munir Mulkhan(2000: 245), bahwa konsep dan strategi Dakwah yang di arahkan pada problem solving atau pembebasan terhadap berbagai pedasalahan kehidupan umat di lapangan, pada gilirannya nanti akan melahirkan imege dan tiga kondisi positif dalam diri umat, yakni

1)     Tumbuhnya kepercayaan dan kemandirian umat serta masyarakat, sehingga akan lahir dan berkembang sikap optimis, dan dinamis.

2)     Tumbuhnya kepercayaan terhadap kegiatan Dakwah guna mencapai tujuan kehidupan yang lebih baik dan ideal.

3)     Berkembangnya suatu kondisi sosio-ekonomi, budaya, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai landasan peningkatan kualitas hidup, atau peningkatan kualitas sumber daya umat.

Dengan demikian, menurut Munir Mulkhan Dakwah pemecahan masalah merupakan upaya yang demokratis bagi pengembangan dan peningkatan ‘ kualitas hidup sebagai bagian ‘ dari pemberdayaan manusia dan masyarakat, termasuk dalam menuntaskan berbagai persoalan dan problematika kehidupan obyektif dihadapi.

Ringkasnya, melalui Dakwah pemecahan masalah dan pengembangan masyarakat seperti itu, suatu komunitas masyarakat muslim terkecil sekalipun dapat dikembangkan menjadi komunitas sosial yang mempunyai kemampuan internal yang berkembang secara mandiri dalam menyelesaikan persoalannya. Itulah sebabnya pengembangan kemampuan kualitas sumber daya umat dalam lingkup kecil, seperti keluarga (usrah), atau kelompok (jamaah) pengajian, harus menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian seluruh lembaga formal Dakwah Islam dan organisasi sosial keagamaan secara terencana dan sistematis, guna menatap masa depan Dakwah yang lebih cerah.

  1. Tabligh/ta’lim

Model Tabligh atau ta’lim dilakukan sebagai upaya penerangan dan penyebaran pesan Islam dan dalam rangka pencerdasan serta pencerahan masyarakat melalui kegiatan pokok, sosialisasi, internalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai ajaran Islam, baik dengan menggunakan sarana mimbar maupun media massa (cetak dan audio visual). Karena itu berpijak dari sirah Dakwah yang telah dipraktikkan oleh Rasulullah SAW manakala mendesain dan menggerakkan program serta agenda Dakwah bermuatan tabligh untuk mempersiapkan, mendidik, dan membina kader sumber daya manusia yang handal, menurut Nanih Machendrawaty dan Agus Ahmad Safei (2001: 32) berpijak dari sejarah dakwah, dakwah masyarakat yang dipraktikkan Nabi Muhamamad SAW.

Melalui upaya Dakwah yang sistematis, metodologis dan sirnultan, akhirnya masyarakat akan mampu berkembang menjadi salah satu unsur kekuatan dakwah. Apalagi jika keberadaan dan survivalitas mereka dibina, dijaga dan dikembangkan melalu sistem ke-Dakwah-an yang harmonis dan terpadu. Karena itu menjadi satu keharusan bagi setiap subyek Dakwah untuk memahami metodologi Dakwah secara detail.  Ke-Dakwah-an, objek Dakwah pada masyarakat dan lain sebagainya, bertujuan agar bisa melaksanakan agenda Dakwah dengan baik, lebih profesional, bermutu, dan elegan. Tanpa pemahaman yang baik terhadap metodologi dan strategi Dakwah dan karakte’ristik dari objek yang dihadapi, rasanya susah untuk berharap jika aktivitas Dakwah yang dilaksanakan oleh juru Dakwah mampu membentuk dan membawa masyarakat kepada kondisi pemberdayaan dan pencerahan yang diharapkan, yakni masyarakat yang memiliki kemandirian dan keswadayaan. 

(sumber: diolah dari berbagai sumber)

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sanggar Anak Tangguh

Strong Children Strong Nation

What Planners Do

The Few, The Proud, The Planner

kalipaksi dot com

Melu Memayu Hayuning Bawono

ARDAN SIRODJUDDIN

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan pendidikan Indonesia

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

%d blogger menyukai ini: