Beranda > Uncategorized > Partisipasi Da…

Partisipasi Da…

Partisipasi Da’i Dalam Pelaksanaan Program Kebersihan

di Desa Hutabangun, Kecamatan Bukit Malintang Kabupaten Madina

 

Dalam Islam, da’i adalah pemimpin umat. Keberadaan mereka dibutuhkan oleh masyarakat khususnya dalam hal ini di Desa Hutabangun yang hampir seluruh penduduknya memeluk Agama Islam. Islam mempunyai konsep bersih yang luas untuk kepentingan ibadah dan kepentingan kebersihan lingkungan. Namun potensi seperti di atas belum banyak menunjang program kebersihan di Desa Hutabangun, untuk mewujudkan desa yang asri, bersih, nyaman dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Masalah yang diteliti berkisar pada sejauh mana peranan da’i yang berfungsi sebagai motivator dalam sistem pengelolaan kebersihan, pengetahuannya dalam makna konteks tentang bersih yang mendukung pengetahuan bersih dari konsep Islam. Kemudian bentuk-bentuk aktivitasnya, kondisi kebersihan, dan partisipasi masyarakat.

Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui tingkat peranan da’i dalam pelaksanaan program kebersihan, khususnya fungsi mereka sebagai motivator dengan menerapkan konsep agama tentang bersih. Pada bagian bahasan teoritis memuat beberapa konsep yang mendasari standar penerapannya:

1)     Rumusan pengertian bersih dan kebersihan sebagai standar yang dianut;

2)     Konsep bersih menurut Islam untuk kepentingan ibadah dan lingkungan;

3)     Teori tentang-peranan untuk menetapkan keberadaan peranan da’i dalam sistem pengelolaan kebersihan yang berfungsi sebagai motivator;

4)     Pengertian da’i dan konsep kepemimpinannya di Desa Hutabangun;

5)     Rujukan da’i yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadis;

6)     Kerangka konseptual yang membentuk variabel-variabel sebab, akibat dan permasalahan yang diteliti;

7)     Penjelasan variabel-variabel dan hipotesis kerja (Tan 1980 dan baca Moleong 1989) untuk mengarahkan penelitian, penulisan dan pembahasannya.

Selanjutnya dalam metodologi, setelah memilih Desa Hutabangun sebagai lokasi penelitian, lalu menetapkan jenis sampei utama yaitu da’i secara random sebanyak xx responder yang akan diteliti peranannya. Sampel unsur pemerintah dan masyarakat sebagai sampel pendukung, masing-masing berjumlah xx dan xx responden. Pertimbangannya, pemerintah sebagai pihak penyelenggara program kebersihan, sedangkan masyarakat sebagai sasaran motivasi da’i dan yang berhubungan langsung dengan kebersihan secara operasional.

Data dikumpulkan dengan kuesioner, wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Data diolah dengan tabulasi distribusi persentase relatif, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan analisis deskriptif berdasarkan data kuantitatif.

Adapun hasil penelitian:

1)     Penduduk Desa Hutabangun 100% memeluk Agama Islam dari jumlah penduduk xxx jiwa; (2) Desa Hutabangun belum mencerminkan desa bersih sesuai dengan standar yang dianut karena masih rendahnya partisipasi masyarakat. Hambatannya antara lain masih sulitnya merubah budaya membuang sampah di sembarang tempat yang dilatarbelakangi kurangnya pemahaman pengertian kebersihan lingkungan dan kurangnya motivasi. Pengertian dan penerapan konsep Islam tentang bersih masih terbatas pada kepentingan ibadah yang disebabkan antara lain oleh kurangnya keterlibatan da’i dalam memberikan motivasi tentang kebersihan lingkungan;

2)     Sebagai upaya untuk mengatasinya, diperlukan sistem pengelolaan yang terpadu meliputi Perdes, pengadaan sarana, partisipasi masyarakat, dan motivasi da’i bersama unsur lain;

3)     Da’i di Desa Hutabangun secara kognitif mempunyai pengetahuan konsep Islam tentang bersih. Namun secara kuantitatif sebagian besar mereka belum banyak mengembangkan makna bersih secara kontekstual dalam memberikan motivasi. Atau: secara kualitatif pengembangan makna konstekstual sudah diterapkan, akan tetapi hanya oleh sebagian kecil da’i. Motivasi pengertian dan penerapan konsep Islam tentang bersih pada umumnya masih berkisar pada kepentingan ibadah ritual;

4)     Tingkat keterlibatan da’i ternyata masih kurang (xx%) seperti terlihat pada bentuk aktivitasnya. Padahal pilihan terbesar responden masyarakat (xx%) mengharapkan kehadiran da’i sebagai motivator bahkan mendapat dukungan dari responden pemerintah. Ada kecenderungan hubungan antara tingkat kurangnya peranan da’i dalam melaksanakan fungsinya sebagai motivator, dengan kurangnya pengetahuan mereka secara kualitatif (tebel);

5)     Motivasi tentang kebersihan dengan pendekatan agama merupakan materi pendekatan yang tepat. Selanjutnya media mimbar dan teknik ceramah masih dominan dipergunakan. Padahal masyarakat sudah mendambakan media dan teknik yang lebih luas dan bervariasi;

6)     Responden masyarakat 98,5% menyatakan partisipasi masyarakat tergantung motivasi da’i dengan alasan masih tingginya kredibilitas masyarakat terhadap da’i, dan da’i diakui sebagai pemimpin terdekat dengan umat (tabel);

7)     Responden masyarakat xx% menyatakan bersih sudah merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, namun xx menjawab masih terbatas pada keperluan ibadah. Alasan di atas merupakan faktor lain yang menyebabkan masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam kaitannya dengan pengertian bersih yang hanya mereka terima dari praktek bimbingan ibadah melalui pengajian (xx%).

Pembahasan berkisar tentang sejauh mana pengetahuan dan penerapan konsep Islam tentang bersih yang dimiliki da’i itu didukung oleh pengetahuaan bersih dalam pengertian umum. Selain tuntutan dakwah, tanggung jawab peranannya dalam sistem pengelolaan kebersihan yang fungsinya sebagai motivator, juga karena tuntutan pembangunan berwawasan lingkungan.

Di sini da’i diperlukan kesadaran tanggung jawabnya dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas umat. Karena tingkat partisipasi masyarakat berkaitan dengan pengetahuan dan penerapan bersih secara luas serta partisipasinya tergantung dari motivasi da’i, maka dituntut menguasai pengetahuan konsep Islam tentang bersih dalam makna kontekstual.

Lingkungan bersih, partisipasi masyarakat, dan motivasi da’i menjadi satu sistem operasional yang mempunyai hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya. Akhirnya sampai kepada kesimpulan bahwa peranan da’i telah ada dan diperlukan dalam sistem pengelolaan kebersihan, akan tetapi masih pada tingkat rendah. Rendahnya peranan da’i disebabkan oleh faktor-faktor seperti kurangnya pengetahuan dan penerapan konsep Islam tentang bersih dalam makna kontekstual, bentuk dan frekuensi kegiatan, penggunaan media dan teknik kegiatan.

Kurangnya peranan da’i mempengaruhi rendahnya partisipasi masyarakat. Rendahnya partisipasi masyarakat bersama faktor lain juga dipengaruhi oleh faktor mendasar yaitu terbatasnya pengertian dan penerapan konsep Islam tentang bersih hanya pada keperluan ibadah ritual yang mereka terima dari pengajian dan bimbingan praktek ibadah.

Mengingat da’i sebagai pemimpin umat yang memiliki kredibilitas tinggi di mata masyarakat Desa Hutabangun, maka peranan mereka diperlukan dalam sistem pengelolaan kebersihan. Da’i juga sebagai guru umat sehingga dituntut menguasai pengetahuan konsep Islam tentang bersih dalam arti luas.

��

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sanggar Anak Tangguh

Strong Children Strong Nation

What Planners Do

The Few, The Proud, The Planner

kalipaksi dot com

Melu Memayu Hayuning Bawono

ARDAN SIRODJUDDIN

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan pendidikan Indonesia

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

%d blogger menyukai ini: