Beranda > Uncategorized > Menyikapi Kegagalan Dakwah

Menyikapi Kegagalan Dakwah

 

  1. Latar Belakang Masalah

Belum pernah terjadi dalam sejarah bahwa umat Islam mengalami kekalahan, kemunduran dan kemerosotan yang begitu parah seperti yang terjadi pada masa sekarang ini. Kemunduran yang menimpa kaum Muslimin dewasa ini sebagaimana dikemukakan para cendekiawan Muslim, bersumber dari “kegagalan dakwah” dalam membina generasi penerusnya. Yakni yang dimaksud dengan “kegagalan dakwah” adalah belum tercapainya tujuan dakwah yang mengajak manusia untuk totalitas mengabdi (beribadah) kepada Allah dan Rasul-Nya guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Persoalan paling mendasar yang menyebabkan umat ini (Islam) semakin terpuruk dalam kemunduran dan krisis multi dimensi adalah hilangnya ruh dan nilai-nilai rabbaniyah yang seharusnya menjadi identitas pribadi muslim baik pada tataran individu atau pun masyarakat secara kolektif, Kita semua adalah pengemban dakwah dikarenakan umat Islam pada umumnya dan khususnya juru dakwahnya telah meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya dan mengikuti ajaran-ajaran yang datang dari luar Islam.

Hal ini ditandai dengan pemahaman atau keyakinan yang salah terhadap ajaran Islam, seperti pemahaman hadits bahwa umat Islam akan mengalami kemunduran di akhir zaman, yang menyebabkan umat Islam statis dan tidak mau mengubah nasib. Sebab lain adalah perpecahan yang ada dalam umat Islam sendiri, pemerintahan yang absolute (mutlak) mempercayakan pimpinan umat kepada orang-orang yang tak dapat dipercaya dan disebabkan juga karena lemahnya tali ukhuwah Islamiyah.

Adapun yang menjadi barometer (alat ukur) “Kegagalan Dakwah” adalah sebagaimana yang terjadi dan kita lihat dewasa ini. Kaum Muslimin menjadi kaum yang “terbelakang” peradabannya, terbelakang pengatahuan-teknologinya, terbelakang ekonominya, dipecah belah, diadu domba, dikeluarkan dari warisan dan tradisi pendahulunya dan akhirnya mereka menjadi kaum lemah yang siap didekte dan diperintah orang lain.

Perkembangan dakwah dengan tuntutan dan tantangan yang besar mengharuskan juru dakwah untuk memformulasikan kembali model dan metodologi dakwah agar tidak terasa kering. Hal ini dilakukan oleh para juru dakwah agar “kegagalan dakwah” sepatutnya tidak terulang lagi oleh generasi berikutnya. Karena akan menambah parahnya penderitaan dan kesengsaraan ummat. Jika kaum muslimin yang sedang mundur ini hendak dibangkitkan kembali menjadi kaum yang memimpin peradaban dunia. Hal pertama yang harus dilakukan adalah merombak sistem dakwah yang diterapkan selama ini kemudian dibangun dan dikembangkan sebuah bentuk sistem dan metode dakwah yang akan mengangkat harkat dan martabat mereka sebagaimana yang telah dibuktikan oleh Rasulullah saw dan generasi Islam terdahulu. Mereka telah berhasil dengan gemilangnya  memahami dan menerapkan sistem pembinaan manusia unggul yang diajarkan Allah swt melalui bimbingan Rasulullah saw yang menjadi qudwah bagi umat Islam.

Demikian pula dengan sistem dakwah generasi sesudahnya yang telah melahirkan paradaban baru dalam sejarah kemanusiaan dan menjadi mercusuar pada masa itu. Sejarah kegemilangan Islam terdahulu dapat dicapai karena generasi Islam benar-benar memahami sistem dakwah yang akan mengantarkan mereka menuju kegemilangan.

Dalam penerapan dakwah, diperlukan pendekatan yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi, sehingga dengan demikian, pesan-pesan dakwah dapat mengena kepada sasaran dan dengan demikian diharapkan dakwah dapat dengan mudah diterima mad’u sebagai objek dakwah.

Stoddart, dalam The New World of Islam, menggambarkan perkembangan Islam: “Bangkitnya Islam, barangkali suatu peristiwa paling menakjubkan dalam sejarah manusia. Dalam tempo seabad saja, dari gurun tandus dan suku bangsa terbelakang, Islam telah tersebar hampir menggenangi separo dunia. Menghancurkan kerajaan-kerajaan besar, memusnahkan beberapa agama besar, yang telah dianut berbilang zaman dan abad. Mengadakan revolusi berfikir dalam bangsa-bangsa. Dan sekaligus membina suatu dunia baru, dunia Islam”. Tidak lain, bahwa perkembangan dakwah Islam tersebut – yang digambarkan oleh Stoddart seorang pengamat sejarah dari Barat, sebagai paling menakjubkan dalam sejarah manusia – karena adanya aktifitas dakwah yang dilakukan oleh para ulama dan tokoh-tokoh dakwah Islam, termasuk oleh setiap muslim

Maka untuk mengetahui lebih jauh kegagalan ummah dalam sistem dakwah yang mereka terapkan dewasa ini, diperlukan studi terhadap sistem dakwah secara lurus dan jujur, mau tidak mau harus pula diadakan kritik terhadap segala bentuk kelemahan dan kegagalannya, baik secara teori ataupun prakteknya, disamping menunjukkan dimana letak keutamaannya agar dapat dibangun formula dakwah yang lebih mendekati warisan dan tradisi yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw dan diikuti para sahabat dan generasi sesudahnya.

 Yang menjadi landasan adalah firman Allah dalam Q.S. Al-Ahzaab [33] ayat 39, yaitu:

šúïÏ%©!$# tbqäóÏk=t7ムÏM»n=»y™Í‘ «!$# ¼çmtRöqt±øƒs†ur Ÿwur tböqt±øƒs† #´‰tnr& žwÎ) ©!$# 3 4’s”x.ur «!$$Î/ $Y7ŠÅ¡ym ÇÌÒÈ

Artinya: ”(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.”  

 

  1. Tujuan
  2. Mengetahui sebak dan akibat dari kegagalan dakwah islam
  3. Menyikapi Kegagalan Dakwah Islam

 

  1. Manfaat
  2. Dapat mengetahui sebab kegagalan dakwah islam
  3. Dapat mengetahui akibat dari kegagalan dakwah islam
  4. Tahu bagaimana dalam menyikapi kegagalan dakwah islam

 

  1. Kerangka Pemikiran

Islam adalah agama Da’wah, dan mempertahankan kebebasan berda’wah itu secara konsekuen.

Kajian ilmiah mengenai Islam di Indonesia menyangkut berbagai permasalahan yang tidak semuanya transparan bagi banyak orang, sehingga hasilnya juga tidak bisa dianggap taken for granted (selalu benar) (Nurcholish Madjid, 2008:3). Mengenali dan memahami sebaik mungkin permasalahan merupakan langkah dan strategi yang sangat penting untuk bisa menentukan pilihan jenis kajian ilmiah Islam yang lebih tepat atau lebih urgen, sesuai dengan kemungkinan dan fasilitas yang tersedia (Nurcholish Madjid, 2008:3).

Dewasa ini dakwah Islam dinilai “gagal” dalam mengarahkan manusia untuk ‘amar ma’ruf nahyi munkar. Dakwah seolah-olah kehilangan “ruh”nya. Kenapa ini terjadi? Karena jauhnya umat Islam dari nilai-nilai Al-Qur’an.

Sebagai kitab dakwah yang penuh hikmah, Al-Qur’an banyak mengenalkan tema-tema dakwah. Setiap tema sarat makna yang menantang untuk ditelaah, dipahami, ditafsirkan dan dihubungkan dengan semangat kehadiran Al-Qur’an sebagai petunjuk, penjelasan dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. Dengan demikian, idealnya nilai-nilai Al-Qur’an betul-betul hadir di tengah-tengah kehidupan sosial budaya yang menerangi, interaktif dan komunikatif dengan zamannya.

Selain itu, Al-Qur’an juga mengatur dan menjelaskan segala sesuatu yang berkenaan dengan dakwah, baik pada aspek subtansi maupun metodologinya. Oleh karenannya Al-Qur’an harus menjadi rujukan utama dalam setiap kegiatan dakwah. Karena itu pula upaya-upaya sistematis dan metodologis untuk menggali nilai-nilai Al-Qur’an tentang dakwah menjadi keharusan yang tidak dapat dihindarkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  1. Definisi Dakwah

Secara bahasa (etimologi), dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu da’a, yad’u, da’wan, du’a, yang diartikan sebagai mengajak/menyeru, memanggil, seruan, permohonan dan permintaan.

Dalam ayat-ayat Al-Qur’an terdapat berbagai macam definisi dakwah, antara lain :

 

¾……….. (#qãã÷Š$#ur Nä.uä!#y‰ygä© `ÏiB Èbrߊ «!$#  )   …….ﺍﻠﺑﻘﺮﺓ : ٢٣    (

“..dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah…”

 

Begitu pula ayat berikut menunjukkan variasi arti dari kata dakwah :

 

ô`tBur ß`|¡ômr& Zwöqs% `£JÏiB !%tæyŠ ’n<Î) «!$# Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ tA$s%ur ÓÍ_¯RÎ) z`ÏB tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$# ÇÌÌÈ  

(  فصلت : ٣٣ )

Artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” \

Ü=‹Å_é&……. nouqôãyŠ Æí#¤$!$# #sŒÎ) Èb$tãyŠ ( ……….. ÇÊÑÏÈ   ( البقرة : ١٨٦)

Artinya : …….. “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku………” 

Sedangkan secara terminologi, banyak pendapat tentang definisi dakwah, diantaranya adalah Syekh Al-babiy al-Khuli mendefinisikan dakwah dengan “upaya memindahkan situasi manusia kepada situasi yang lebih baik.” . Demikian pula A. Hasymi dalam bukunya Dustur Dakwah dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa dakwah adalah mengajak orang lain untuk meyakini dan mengamalkan akidah dan syaria’ah Islam, yang terlebih dahulu diyakini dan diamalkan oleh pendakwah sendiri.

Hal ini sesuai dengan firman Allah swt, dalam Q.S. Ash-Shaff (61): 3, yaitu

uŽã9Ÿ2 $ºFø)tB y‰YÏã «!$# br& (#qä9qà)s? $tB Ÿw šcqè=yèøÿs? ÇÌÈ   (  ﺍﻠﺼﻒ :  ٣)

Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” 

      Sedangkan definisi dakwah menurut Drs. H.M. Arifin, M.Ed adalah :

“Sebagai suatu kegiatan ajakan baik dalam bentuk lisan, tulisan, tingkah laku, dan sebagainya yang dilakukan secara sadar dan berencana dalam usaha mempengaruhi orang lain baik secara individual maupun secara kelompok agar supaya timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap, penghayatan serta pengamalan terhadap ajakan agama sebagai message yang disampaikan kepadanya dengan tanpa adanya unsur-unsur paksaan.

 

Pendapat di atas sesuai dengan firman Allah swt, dalam surat Al-Baqarah [2]:256, yaitu :

Iw on#tø.Î) ’Îû ÈûïÏe$!$# ( ‰s% tû¨üt6¨? ߉ô©”9$# z`ÏB ÄcÓxöø9$# 4    )ﺍﻠﺑﻘﺮﺓ :  ٢٥٦         (

Artinya : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat

Adam Abdullah Al-Alusy dalam kitabnya Tarikh ad-Da’wah Islamiyah mengartikan dakwah sebagai ”pendorong manusia agar berbuat baik dan mengikuti petunjuk, menyeru untuk berbuat kebaikan dan melarang dari perbuatan mungkar agar mereka mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.”. Lain halnya dengan Quraish Shihab, ia mendefinisikan dakwah sebagai seruan atau ajakan kepada keinsyafan, atau usaha mengubah situasi yang lebih baik dan sempurna baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Betapa pun definisi-definisi di atas terlihat dengan redaksi yang berbeda, namun dapat disimpulkan bahwa esensi dakwah merupakan aktivitas dan upaya untuk mengubah manusia, baik individu maupun masyarakat dari situasi yang tidak baik kepada situasi yang lebih baik, dan hakikat makna dakwah adalah kegiatan amar ma’ruf nahi munkar, berkaitan dengan syi’ar agama.

 

  1. Metode Dakwah

         Di negeri ini, para pemikir dan pemuka Islam sudah sejak lama merisaukan tentang metode dakwah yang dijadikan pegangan selama ini. Ada yang perpendapat metode dakwah selama ini kurang menyesuaikan diri dengan perubahan atau perkembangan sosial yang terjadi di tengah umat. Oleh karena itu, metode dan etika dalam berdakwah perlu diperhatikan. Karena niat baik saja tidak cukup, jika tidak diiringi dengan cara (metode) yang benar. Begitu juga sebaliknya.

         Berdasarkan kenyataan di atas, maka berikut ini akan dipaparkan metode dakwah yang akurat dalam Al-Qur’an. Membicarakan masalah metodologi berarti memasuki aspek epistemologi dalam filsafat keilmuan, karena aspek ini secara filosofis membahas tentang cara menerapkan usaha-usaha dalam rangka mengembangkan suatu ilmu.          Metode berasal dari kata method (bahasa Inggris) atau Methodos (bahasa Yunani); meta yang artinya sesudah atau melampaui dan hodos artinya cara atau jalan.     Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa ”Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.” Kata metode telah menjadi bahasa Indonesia yang memiliki pengertian “Suatu cara yang bisa ditempuh atau cara yang ditentukan secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan, rencana sistem, tata pikir manusia.” Sedangkan dalam metodologi pengajaran ajara Islam disebutkan bahwa metode adalah “Suatu cara yang sistematis dan umum terutama dalam mencari kebenaran ilmiah. Ketika membahas tentang metode dakwah, maka pada umumnya para juru dakwah merujuk pada surat An-Nahl [16] ayat 125 :

äí÷Š$# 4’n<Î) È@‹Î6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u‘ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‹Î6y™ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ                  ( ﺍﻠﻨﺤﻞ:١٢٥ ) 

 

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (R. H. A. Soenarjo, 421:1989)

         Ada beberapa kerangka dasar tentang metode dakwah yang terdapat pada ayat di atas, antara lain sebagai berikut :

  1. Bi al Hikmah

Kata “hikmah” dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 20 kali baik dalam nakiroh maupun ma’rifat. Bentuk masdarnya adalah “hukman” yang diartikan secara makna aslinya adalah mencegah. Jika dikaitkan dengan hukum berarti mencegah kedzaliman, dan jika dikaitkan dengan dakwah maka berarti menghindari hal-hal yang kurang relevan dalam melaksanakan tugas dakwah. Menurut Imam Abdullah bin Ahmad Mahmud an-Nasafi, arti hikmah yaitu :

“Dakwah bil-hikmah” adalah dakwah dengan menggunakan perkataan yang benar dan pasti, yaitu dalil yang menjelaskan kebenaran dan menghilangkan keraguan.

Dalam bahasa komunikasi hikmah menyangkut apa yang disebut sebagai frame of reference, field of reference dan field of experience, yaitu situsi total yang mempengaruhi sikap terhadap pihak komunikan (objek dakwah). Dengan kata lain bi al-hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi yang dilakukan atas dasar persuasif . Karena dakwah bertumpu pada human oriented, maka konsekuensi logisnya adalah pengakuan dan penghargaan pada hak-hak yang bersifat demokratis, agar fungsi dakwah yang utama adalah bersifat informatif sebagaimana ketentuan Al-Qur’an surat Al Ghaasyiyah [88]:21-22 :

öÏj.x‹sù !$yJ¯RÎ) |MRr& ֍Åe2x‹ãB ÇËÊÈ   |Mó¡©9 OÎgø‹n=tæ @ÏÜøŠ|ÁßJÎ/ ÇËËÈ  ( الغا شية : ٢٢-٢١ )

 

Artinya : “Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka

   Dalam Al-Qur’an terdapat banyak kata hikmah, di antaranya adalah :

 

$uZ­/u‘ ô]yèö/$#ur öNÎg‹Ïù Zwqߙu‘ öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Gtƒ öNÍköŽn=tæ y7ÏG»tƒ#uä ÞOßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur öNÍkŽÏj.t“ãƒur 4 y7¨RÎ) |MRr& Ⓝ͕yèø9$# ÞOŠÅ3ysø9$# ÇÊËÒÈ    )ﺍﻠﺑﻘﺮﺓ :  ١٢٩       (

Artinya : “Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” 

 

’ÎA÷sムspyJò6Åsø9$# `tB âä!$t±o„ 4 `tBur |N÷sムspyJò6Åsø9$# ô‰s)sù u’ÎAré& #ZŽöyz #ZŽÏWŸ2 3 $tBur ㍞2¤‹tƒ HwÎ) (#qä9’ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÏÒÈ  ( ﺍﻠﺒﻗﺮﺓ: ٢٦٩ )

Artinya : “Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

           

  1. Mauidzah al Hasanah

Secara bahasa, mau’izhah hasanah terdiri dari dua kata, yaitu mau’izhah dan hasanah. Kata mau’izhah  berasal dari kata wa’adza-ya’dzu-wa’dzan-‘idzatan yang berarti nasihat, bimbingan, pendidikan dan peringatan, sementara hasanah merupakan kebalikan dari sayyi’ah yang artinya kebaikan lawannya kejelakan (M. Munir, 2006:15).

Adapun pengertian secara istilah ada beberapa pendapat, salah satunya menurut Abd. Hamid al-Bilali al-Mau’izhah al-Hasanah merupakan salah satu manhaj (metode) dalam dakwah untuk mengajak ke jalan Allah dengan memberikan nasihat atau membimbing dengan lemah lembut agar mereka mau berbuat baik. Pendapat Abd. Hamid al-Bilali sesuai dengan firman Allah swt dalam surat Thaahaa [20]:44, yaitu :

Ÿwqà)sù ¼çms9 Zwöqs% $YYÍh‹©9 ¼ã&©#yè©9 ㍩.x‹tFtƒ ÷rr& 4Óy´øƒs† ÇÍÍÈ   ( ﻁﻪ : ٤٤  )    

Artinya : “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

Menurut Filosof Tanthawy Jauhari, yang dikutip Faruq Nasution mengatakan bahwa mau’izhah hasanah adalah mau’izhah Ilahiyyah yaitu upaya apa saja dalam menyeru/mengajak manusia kepada jalan kebaikan (ma yad’u ila al shaleh) dengan cara rangsangan menimbulkan cinta (raghbah) dan rangsangan yang menimbulkan waspada (rahbah).

         Sikap lemah lembut (affection) menghindari sikap egoisme adalah warna yang tidak terpisahkan dalam cara seseorang melancarkan ide-idenya untuk mempengaruhi orang lain secara persuasif dan bahkan coersive (memaksa). Caranya dengan mempengaruhi objek dakwah atas dasar pertimbangan psikologis dan rasional.  Maksudnya sebagai subjek dakwah harus memperhatikan semua determinan psikologis dari objek dakwah berupa frame of reference (kerangka berfikirnya) dan field experience (lingkup pengalaman hidup dari objek dakwah dan sebagainya).

         Dalam hal ini Nabi mengingatkan kepada kita selaku umatnya melalui sabdanya, yaitu : “Berbicaralah dengan mereka (manusia) itu sesuai dengan kemampuannya.” Jadi setelah memahami frame of experience dari objek dakwah, seorang da’i diwajibkan menyampaikan  nasehat-nasehatnya dengan nasehat yang faktual berupa mau’idzah hasanah agar pihak objek dakwah dapat menentukan pikirannya terhadap rangsangan, psikologis yang mempengaruhi dirinya.           Sebaliknya, perilaku yang kasar, main paksa justru menjauhkan simpatik orang lain. Allah swt, berfirman :

$yJÎ6sù 7pyJômu‘ z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $ˆàsù xá‹Î=xî É=ù=s)ø9$# (#q‘ÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym ( ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó™$#ur öNçlm; öNèdö‘Ír$x©ur ’Îû ͐öDF{$# ( #sŒÎ*sù |MøBz•tã ö@©.uqtGsù ’n?tã «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ   ( ٲﻞﻋﻤﺮﺍﻦ : ۱۵۹  )

 

Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

 

Kalau kita telusuri kesimpulan dari mau’izhah hasanah, akan mengandung arti kata-kata yang masuk ke dalam qolbu dengan penuh kasih sayang dan ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan; tidak membongkar atau membeberkan kesalahan orang lain sebab kelemahan dalam menasihati seringkali dapat meluluhkan hati yang keras dan dapat menjinakkan qolbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan daripada larangan dan ancaman (M. Munir, 2006:17).

  1. Mujadalah

Dari segi etimologi (bahasa) lafazh mujadalah terambil dari kata “jadala” yang bermakna memintal, melilit. Apabila ditambahkan alif pada huruf jim yang mengikuti wazan faa’ala, “jaa dala” dapat bermakna berdebat, dan “mujaadalahperdebatan.

Menurut Ali al-Jarisyah, dalam kitabnya Adab al-Hiwar wa-almunadzarah, mengartikan bahwa “al-jidal” secara bahasa dapat bermakna pula “Datang untuk memilih kebenaran” dan apabila berbentuk isim “al-jadlu” maka berati “pertentangan atau perseteruan yang tajam” . Dari segi istilah (terminologi) Al-Mujadalah (al-Hiwar) berarti upaya tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis tanpa adanya suasana yang mengharuskan lahirnya permusuhan di antara keduanya. Sedangkan menurut Dr. Sayyid Muhammad Thantawi ialah, suatu upaya yang bertujuan untuk mengalahkan pendapat lawan dengan cara menyajikan argumentasi dan bukti yang kuat.

  1. Tujuan Dakwah

Secara konsepsional, dakwah memiliki materi dan tujuan-tujuan yang spesifik. Dakwah mempunyai tujuan yang satu, yaitu “Menyerah” didalam pengertian penyerahan diri sepenuhnya, penyerahan diri dan kepatuhan para hamba kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam, menarik umat manusia keluar dari kesetiaan mengabdikan diri kepada sesama hamba Allah swt, membawa mereka keluar dari sikap patuh dan tunduk kepada sesama hamba Allah di dalam urusan peraturan hidup dan pemerintahan, nilai-nilai dan kebudayaan, untuk bersikap patuh dan tunduk kepada kekuasaan pemerintahan dan peraturan Allah swt. saja di dalam semua urusan hidup guna mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Allah swt menegaskan dalam firman-Nya :

× tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4  ( ٲﻞﻋﻤﺮﺍﻦ : ۱۰٤ )

Artinya : ”menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”

         Dan dalam ayat lain Allah swt,. Kembali berfirman :

!9# 4 ë=»tGÅ2 çm»oYø9t“Rr& y7ø‹s9Î) yl̍÷‚çGÏ9 }¨$¨Z9$# z`ÏB ÏM»yJè=—à9$# ’n<Î) ͑q–Y9$# ÈbøŒÎ*Î/ óOÎgÎn/u‘ 4’n<Î) ÅÞºuŽÅÀ ͓ƒÍ“yèø9$# ω‹ÏJptø:$# ÇÊÈ   ( ٳﺑﺮﺍﻫﯿﻢ : ۱ )

Artinya : ”Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”

         Oleh karena itu, dalam menjalankan amanah dakwah Islam di dunia ini kita sebagai juru dakwah harus semangat dan istiqomah dalam berdakwah. Kita jangan kalah dengan orang-orang komunis dan orang-orang kafir yang melakukan gerakan di dunia ini demi menyeru manusia untuk menerima pemikiran mereka, dan mengganti hidup manusia sesuai dengan apa yang mereka serukan. Mereka (orang-orang komunis dan orang-orang kafir) juga tugas itu dengan sungguh-sungguh dan rela berkorban.

         Seharusnya seperti itu juga para juru dakwah Islam berbuat, bahkan mereka diperintahkan lebih dari itu. Para juru dakwah wajib berusaha untuk menjalankan Islam sebagai sebuah sistem hidup, dan hendaknya ini menjadi tujuan dalam hidup. Jika hal tersebut sudah dilakukan, maka tujuan dakwah Islam yang mulia ini akan tercapai dan bukan sekedar mimpi di siang bolong.

Kalau kita mau melihat sejarah Muhammad SAW dalam menyampaikan dakwahnya, ia tidak hanya bertabligh, mengajar, atau mendidik dan membimbing, tetapi juga sebagai uswatun hasanah. Ia juga memberikan contoh dalam pelaksanaanya, sangat memperhatikan dan memberikan arahan terhadap kehidupan sosial, ekonomi seperti pertanian, peternakan, perdagangan dan sebagainya.[i]

 Dakwah Nabi pun dalam periode Mekkah penuh dengan pengorbanan-pengorbanan baik raga, harta benda, bahkan jiwanya terancam akibat percobaan pembunuhan serta yang lebih berat lagi adalah korban perasaan, dari pada fitnah berupa ejekan, cemooh, cerca, penderitaan karena dikucilkan dan sebagainya. Demikian pula dalam periode Madinah para sahabat dan para pengikut Nabi, mereka bekerja keras dalam berbagai sektor kehidupan sosial, ekonomi dan sebagainya, orang-orang dari Anshor sebagian memberikan tanahnya, ternaknya, hartanya, kepada orang-orang Muhajirin yang telah kehabisan bekal. Rasul menghimpun harta benda untuk kepentingan pertahanan negara dan sebagainya.[ii]

            Jelaslah bahwa kalau kita mau bercermin pada sejarah Nabi, telah memberikan suritauladan dalam hidup dan melakukan dakwahnya beliau senantiasa menunjukkan satunya kata dengan tindakan. Nabi menunjukkan adanya kesatuan antara ucapan dan dengan perbuatan. Beliau tidak hanya hidup berdo’a dan berkhutbah, tanpa melakukan aksi sosial kemasyarakatan.

  1. Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Dakwah

Dalam melakukan aktivitas apapun sudah menjadi Sunnatullah pasti akan menemukan yang namanya keberhasilan atau kegagalan. Begitu pun dengan dakwah Islamiyah yang kita lakukan.

Adapun yang dimaksud kegagalan dakwah adalah belum tercapainya tujuan dakwah, yang mengajak manusia untuk melakukan ‘amar ma’ruf nahi munkar dan  totalitas mengabdi (beribadah) kepada Allah dan Rasul-Nya guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Sebagai manusia yang punya kewajiban berdakwah tidak saja harus instropeksi (muhasabah) diri, tetapi juga perlu waspada dalam setiap kali melakukan aktifitas dakwahnya. Hal ini penting karena bahaya yang menghadang mereka (juru dakwah) tidak dapat dianggap ringan.

Bahaya itu itu tidak hanya datang dari luar, tetapi juga bersumber dari dalam. Ukuran bahaya pun sangat relatif. Tidak bisa dikatakan bahwa bahaya dari luar lebih berat dibanding bahaya dari dalam. Begitu pun sebaliknya. Yang nyata, dari  banyak pengalaman, tidak jarang para aktivis muslim termasuk juga da’i, mubaligh dan ulama justru terjerumus karena penyakit yang bersumber dari dalam dirinya, bukan dari luar.

Dalam bukunya “Penyebab Gagalnya Dakwah” Dr. Sayyid Muhammad Nuh Menyingkap berbagai macam kerikil dan bahaya yang menghadang dalam aktivitas (berdakwah) menegakan agama Allah, baik itu dari internal seorang da’i atau pun eksternal (lingkungan sekitar), diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Internal Da’i
  2. Futuur

Dalam bahasa Arab, kata futuur antara lain dapat bermakna terputus setelah terus menerus, atau diam setelah bergerak; atau sikap malas, lamban dan santai setelah sebelumnya giat dan bersungguh-sungguh. Dalam kitab Lisanul-Arab (Ibnu Manzuur 5/43), kata fatara mengandung pengertian :’sikap berdiam diri setelah sebelumnya bergiat’ atau ‘melemah setelah sebelumnya kuat’. Sedangkan dari sudut istilah, futuur ialah suatu penyakit hati (rohani) yang efek minimalnya timbulnya rasa malas, lamban dan sikap santai dalam melakukan suatu amaliyah yang sebelumnya pernah dilakukan dengan penuh semangat dan menggebu-gebu, dan efek maksimalnya adalah terputusnya sama sekali praktik dari suatu amaliyah tersebut

Ayat Al-Qur’an yang menunjukkan arti futuur antara lain Q.S. Al-Anbiya’ [21]:19-20 :

¼ã&s!ur `tB ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 4 ô`tBur ¼çny‰ZÏ㠟w tbrçŽÉ9õ3tGó¡o„ ô`tã ¾ÏmÏ?yŠ$t7Ï㠟wur tbrçŽÅ£óstGó¡tƒ ÇÊÒÈ   tbqßsÎm7|¡ç„ Ÿ@ø‹©9$# u‘$pk¨]9$#ur Ÿw tbrçŽäIøÿtƒ ÇËÉÈ    ( ٲﻷﻨﺑﯿﺎﺀ :  ٢۰ – ۱۹)

Artinya : “Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” 

–          Adapun faktor-faktor penyebab Futuur di antaranya, tubuhnya termasuki sesuatu yang haram atau yang bernilai syubhat, mengabaikan kebutuhan jasmani, tidak siap menghadapi kendala dakwah dan berlarut-larut dalam melakukan maksiat dan meremehkan dosa-dosa kecil.

Sedangkan dampak akibat Futuur adalah :

  1. Terhadap Pribadi Aktivis (Juru Dakwah)

Kita harus senantiasa menjaga ketaatan diri kepada-Nya kapan saja dan dimana saja, sebab kita tidak pernah diberi tahu kapan kita akan menghadap ke haribaan-Nya. Sungguh akan merupakan kerugian besar andaikan kita tengah dilanda futuur , tiba-tiba kita harus menghadap kepada-Nya, karena kita akan dinilai sebagai manusia yang menyia-nyiakan dan lalai terhadap ajaran-ajaran-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa memanjatkan do’a seperti ini :

أللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن ، وأعوذبك من العجزوالكسل ، وأعوذبك من الجبن والبخل ، وأعوذ بك من غلبة الدين وقهرالرجا ل 

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap ragu-ragu untuk bertindak dan kesedihan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lemah bertindak (pesimis putus asa) dan malas). Dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan penindasan (tindak semena-mena) orang-orang kepadaku.” (H.R. Abu Daud).

 

 

  1. Terhadap Amal Islami

Terhadap amal Islami, penyakit futuur akan mengakibatkan bertambah panjangnya jalan dakwah serta akan mengakibatkan bertumpuknya beban serta pengorbanan, sebab Allah tidak akan memberi pertolongan dan pengukuhan pada mereka yang malas, lalai dan yang meninggalkan amal. Sebaliknya, Dia (Allah) hanya akan memberikan pertolongan kepada orang yang aktif, yang berjihad, yang teliti dalam beramal, dan membaguskan jihad. Sebagaimana Firman-Nya :

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# $¯RÎ) Ÿw ßì‹ÅÒçR tô_r& ô`tB z`|¡ômr& ¸xyJtã ÇÌÉÈ  

( ﺍﻠﻜﻬﻑ : ٣٠ )

 

Artinya : “Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.”

¨bÎ) ©!$# yìtB tûïÏ%©!$# (#qs)¨?$# tûïÏ%©!$#¨r Nèd šcqãZÅ¡øt’C ÇÊËÑÈ   ( ﺍﻠﻨﺤﻞ : ۱٢۸ )

Artinya : “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”  

z`ƒÏ%©!$#ur (#r߉yg»y_ $uZŠÏù öNåk¨]tƒÏ‰öks]s9 $uZn=ç7ߙ 4 ¨bÎ)ur ©!$# yìyJs9 tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÏÒÈ                    ( ﺍﻠﻌﻨﻜﺒﻭﺖ : ٦٩ )

Artinya : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

  1. Israff

Dari sudut bahasa, Israff antara lain dapat bermakna : melakukan sesuatu tetapi tidak dalam rangka ketaatan dan bisa juga boros dan melampaui batas. Banyak faktor yang menyebabkan Israff, di antaranya adalah : latar belakang keluarga, keleluasaan rezeki yang diperoleh setelah kesempitan, berteman dengan pemboros, lalai terhadap bekal perjalanan, pengaruh istri dan anak, dan kurang mampu mengendalikan aneka tuntutan jiwa.

Sikap berlebih-lebihan dalam beragama adalah suatu penyakit yang membahayakan. Sikap ini dapat mendatangkan akibat-akibat buruk pada masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang, bagi individu, umat dan masyarakat. Juga dalam hal akidah, pemikiran, hukum, syari’at serta perilaku dan tindakan Sesungguhnya sikap berlebih-lebihan dalam agama, dengan segala bentuk dan macamnya, adalah penyakit yang menjijikan dan kronis yang mengantarkan pelakunya dan orang yang komitmen terhadapnya, kepada kehancuran dan kebinasaan di dunia dan akhirat.

Adapun di antara bahaya-bahayanya, terhadap pribadi aktivis adalah hati menjadi keras, kebekuan berfikir, condong kepada kejahatan dan dosa, tidak mampu menghadapi ujian dan kesulitan dan lenyapnya sifat sosial dan rasa solidaritas. Sedangkan terhadap amal islami, Adapun pengaruh-pengaruh yang menimpa amal Islami antara lain akan menjadi kalah, atau paling tidak surut ke belakang. 

  1. Isti’jaal

Dari segi bahasa, kata Isti’jaal, I’jaal, ta’ajjul, semuanya mengandung pengertian sama, yaitu keinginan untuk menyegerakan atau mempercepat apa-apa yang dihajatkan atau orang yang menginginkan agar permintaannya terlaksana dengan cepat atau memerintahkan orang lain untuk bersegera dalam suatu masalah. Mengenai hal ini Allah swt sudah menjelaskan dalam firman-Nya :

 öqs9ur ã@Édfyèムª!$# Ĩ$¨Y=Ï9 §¤±9$# Oßgs9$yf÷èÏGó™$# Ύöy‚ø9$$Î/ zÓÅÓà)s9 öNÍköŽs9Î) öNßgè=y_r& ( â‘x‹oYsù z`ƒÏ%©!$# Ÿw šcqã_ötƒ $tRuä!$s)Ï9 ’Îû öNÍkÈ]»uŠøóèÛ šcqßgyJ÷ètƒ ÇÊÊÈ ( ﯿﻭﻨﺲ : ۱۱ ) 

Artinya : “Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan Pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka.”    

 

Sedangkan dari segi istilah, yang dimaksud Isti’jaal yakni keinginan untuk mewujudkan perubahan atas realitas yang tengah dialami oleh kaum muslimin dalam tempo yang sesingkat-singkatnya tanpa memperhatikan lingkungan, tanpa memperhitungkan akibat dan tanpa melihat kenyataan, juga tanpa persiapan bagi pendahuluan, sistem dan sarana (Sayyid M Nuh, 2000:65). Sikap tergesa-gesa dan terburu-buru merupakan salah satu tabiat yang dimiliki oleh manusia seperti yang telah dinyatakan oleh Allah swt dalam firman-Nya :

……( tb%x.ur ß`»|¡RM}$# Zwqàftã ÇÊÊÈ          ( ﺍﻹﺴﺮﺍﺀ : ۱۱ )

… dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”

t,Î=äz ß`»|¡RM}$# ô`ÏB 9@yftã 4 …….. ÇÌÐÈ   ( ٲﻷﻨﺑﯿﺎﺀ : ٣٧ )

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.”

Kadangkala semangat yang berapi-api dari para penyampai dakwah serta keinginan yang mendesak untuk segera menyebarkan dakwah dan melihat kemenangannya, mendorong para penyampai dakwah untuk menarik sebagaian individu dan beberapa unsur penting masyarakat dengan cara mengacuhkan pada awal-awal langkah beberapa permasalahan dakwah yang mereka anggap bukan merupakan dasar dan pokok dari dakwah. Kemudian mereka berkompromi dengan manusia dalam beberapa urusan agar mereka tidak lari dari dakwah dan memusuhinya. Hal itu mendorong mereka juga untuk menggunakan sarana dan metode-metode yang tidak sesuai dengan standar-standar dakwah yang detail dan tidak pula dengan manhaj dakwah yang lurus. Mereka melakukan hal itu karena didorong oleh keinginan segera melihat kemenangan dakwah dan penyebarannya.

Oleh karena itu, para pembawa misi dakwah tidak boleh menakar dan mengukur keberhasilan dakwah dari segi buah-buah ini saja. Kewajiban mereka hanyalah bertolak dalam perahu dakwah di atas manhajnya yang jelas, murni dan detail (Sayyid Quthb, 2004:211). Kemudian menyerahkan kepada Allah untuk menilai hasil dan buahnya dari sikap istiqomahnya dalam dakwah itu.

  1. Eksternal Da’i (lingkungan sekitar)

Yusuf al-Qaradhawi menulis dalam bukunya Aina al-Khalal bahwa kelemahan umat ini setidaknya disebabkan oleh tiga faktor penting yaitu pertama, melemahnya kesadaran umat ini untuk menjalankan syari’at agamanya. Kedua, umat ini sedang mengalami krisis identitas yang sangat akut. Ketiga, umat ini sedang berada dipersimpangan jalan bahkan lebih ekstrim lagi bahwa umat ini sudah kehilangan arah dan tujuannya.

Padahal Allah swt telah  telah mensifati umat (Islam) ini sebagai khairu ummah (ummat yang terbaik). Akan tetapi al-amru bil ma’ruf  dan an nahyu ’anil munkar sebagai prasyarat utama identitas tersebut sudah sejak lama ditinggalkan. Bahkan yang lebih menyayat lagi, kemungkaran seolah-olah menjadi konsumsi harian dan dianggap sebuah trend sedangkan bertingkah laku secara Islami akan dipandang remeh bahkan terkadang sering dipermasalahkan.

Allah swt., juga telah mengatakan di dalam Al-Qur’an bahwa umat ini ’ala qalbi rajul wahid, umat yang seharusnya satu visi dan misi Inna hadzihi ummatukum ummatan waahidah. Namun pada hari ini, umat yang besar itu terpecah-pecah dan selalu berselisih antar sesama saudaranya (muslim), sehingga perpecahan umat ini dimanfaatkan oleh kaum salibis dan zionois untuk menghancurkan potensi dan kekuatan umat ini.

Inilah yang menjadi penyebab kegagalan dakwah Islam di lingkungan sekitar para juru dakwah, baik itu dalam bidang ekonomi, sosial, budaya dan dakwah sekalipun telah terjadi dikotomi (pengkotak-kotakan) sehingga dakwah ini terkesan parsial.

 

  1. Akibat Kegagalan Dakwah

Mengakibatkan Futur.

Hal ini sebagaimana telah kami jelaskan pada kendala pertama. Sabda Rasulullah shallahu alaihi wa sallam.

“Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus menerus sekalipun sedikit”. (HR : Muttafaq alaih). Menyebabkan Pengorbanan Yang Sia-Sia.

Perilaku tergesa-gesa atau melakukan sesuatu aktivitas dengan tanpa perhitungan lazimnya sangat sulit mencapai keberhasilan, faedah, atau keuntungan. Kasus berikut ini merupakan sebuah contoh konkrit sekaligus ibrah (pelajaran) bagi kita semua atas fenomena isti’jaal.

Pada akhirnya tahun tiga puluhan, kehidupan hakah Islamiyah di Mesir sempat mencapai puncak masa kejayaannya. Ia telah dapat menembus ke segenap lapisan masyarakat. Ibarat sebuah kapal laut yang membelah lauatan yang tenang disertai semilir tiupan angin yang mengiringinya. Suara harakah telah menggema dan terdengar di setiap permasalahan, baik yang sifatnya nasional maupun internasional. Pada waktu itu ada seorang anggota harakah, yaitu Ahmad Rif’at, yang menolak sistem dan cara yang tengah ditempuh oleh harakah Islamiyah dan menyerukan sistem lainnya.

Awalnya, keadaan itu belum sempat menjadi perhatian. Setiap anggota harakah berhak mengkritik hal-hal yang dipandang perlu, maka terjadilah diskusi beberapa kelompok harakah yang kemudian menghasilkan kesimpulan yang paling benar dan jalan yanglebih lurus. Meskipun demikian, yang patut menjadi titik perhatian kita bahwa seruan tersebut mendapat sambutan positif dari para pemuda anggaota harakah Islamiyah. Kita tidak ingin membicarakan sebab-sebab yang melahirkan keadaan tersebut. Yang penting bagi kita adalah diadakannya pertemuan khusus untuk mengetahui kendala dan tuntutan yang tengah berkembang, yang meliputi tiga hal :

Pertama, pihak harakah Islamiyah dianggap telah “bemanis-manis” dengan pemerintah dan berjalan bersamanya, kendati jelas-jelas sistem politik yang dijalankan oleh pemerintah merupakan sistem politik “campuran” (sekuler). Kondisi itu harus diluruskan. Pihak harakah Islamiyah wajiba bersikap tegas dan kritis dalam menghadapi pemerintah secara benar sesuai dengan konteks al-Qur’an. “Dan barangsiap yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itulah orang-orang kafir”.

Kedua, pihak harakah Islamiyah dianggap belum mampu menindak para wanita yang melakukan tabarruj (membuka aurat). Pihak harakah hanya dapat dapat memberikan nasihat, petuah, serta himbauan-himbauan lewat kata-kata. Diusulkan agar pihak harakah bisa mengirimkan para anggotanya ke jalan-jalan Kairo dengan membawa tinta. Setiap kali mereka mendapatkan seorang wanita yang membuka auratnya di hadapannya, mereka harus melemparkan tinta itu ke baju-baju mereka. Sebagai pelajaran bagi wanita itu.

Ketiga, sikap pihak harakah Islamiyah terhadap para mujahidin Palestina, dianggap hanya sebatas “pengakuan”. Sikap semacam itu dipandang sebagai tindakan menyepelekan dalam mengatasi kemelut, enggan berjihad, dan menghindari dari medan perang. Seharusnya harakah Islamiyah segera meninggakan pekerjaan mereka masing-masing kemudian bergabung dengan barisan mujahidin di Palestina.

Jika hal-hal itu tidak dilakukannya, maka mereka termasuk orang-orang yang membelot dari gerakan, dan tidak berguna kerterlibatan mereka dalam harakah Islamiyah.

 

  1. Harapan Untuk Dakwah

Harapan dan Saran Penyelesaian Pelaksanaan dakwah haruslah terprogram rapi, serius, sistimatis, terarah, berkesinambungan. Bukan asal-asalan, acak-acakan. Benar-benar serius memanfa’atkan segenap tenaga, pikiran, dana, kemampuan untuk menyelamatkan orang-orang agar tidak sampai jatuh ke dalam murka Allah. Musuh-musuh Islam punya program rinci, sistimatis untuk memurtadkan orang-orang Islam. Ada program jangka pendek, ada program jangka panjang. Ada program satu tahun, lima tahun, dua puluh lima tahun, lima puluh tahun. Dakwah Islam harus punya program jelas, terarah, terukur, teratur. Berapa persen ditargetkan kenaikan jumlah anggota jama’ah shubuh, kenaikan jumlah anggota jama’ah Jum’at untuk selang waktu tertentu. Berapa persen ditargetkan kenaikan jumlah orang yang bisa baca-tulis Qur’an, kenaikan jumlah orang yang bisa baca-tulis Hadits, kenaikan jumlah orang yang bisa khutbah Jum’at untuk selang periode tertentu. Berapa persen ditargetkan menurunnya jumlah pencopet, penodong, pemerkosa, pengamen, pemulung, pelacur, pemabuk, pejudi, penjarah untuk selang waktu tertentu. Hasil dakwah perlu dievaluasi secara berkala. Sudah berapa persen target tercapai. Apa saja kendala yang merintangi keberhasilan. Tentukan indikator-indikator keberhasilan. Tentukan langkah, program kerja berikutnya. Program kerja berikut merupakan koreksi program sebelumnya. Penataan kegiatan dakwah barangkali perlu mengadopsi fungsi operasi managemen, mencakup fungsi perencanaan (planning, programming), fungsi organizing, fungsi pembimbingan (directing), fungsi coordinating, fungsi pengawasan (controlling). Dalam program kerja antara lain diperhatikan tentang sasaran, pelaku (man), dana (money), waktu, metode dakwah.

Selama ini dakwah hanya berkutat sebatas tekstual ajaran Islam. Kurang menjangkau, menyentuh pesan ajaran Islam secara konstekstual. Kurang menjelaskan secara lugas tentang bahaya kikir, bakhil terhadap diri pribadi dan terhadap masyrakat secara sosiologis dan ekonomis. Kurang menjelaskan secara lugas tentang bahaya rakus, tamak, serakah terhadap diri dan masyarakat secara sosiologis dan ekonomis. Kurang menjelaskan secara lugas tentang bahaya dengki terhadap diri dan masyarakat secara sosiologis dan ekonomis. Kurang menjelaskan secara lugas tentang bahaya terhadap diri dan masyarakat secara sosiologis dan ekonomis dari sifat dan sikap seperti itu yang dicela Islam.

Sudah masanya, lembaga dakwah, muballigh memusatkan diri menyampaikan tuntunan, panduan Islam dalam mencegah timbulnya konflik sosial, baik konflik vertikal (antara atasan dan bawahan, antara majikan dan pelayan, antara penguasa dan rakyat) maupun konflik horizontal (sesama rakyat, sesama penguasa, antara eksekutif dan legislatif). Menyampaikan ajaran “dalam” yang dapat menumbuhkan rasa kasih sayang secara konkrit.

Oleh karena itu sudah tiba  waktunya bagi lembaga-lembaga dakwah Islamiyah untuk memulai program pembaharuan dakwah meyeluruh dan program masuk desa secara besar-besaran. Disini perlu ada beberapa langkah dan orientasi gerakan dakwah yang perlu dirumuskan ulang. Pertama, setiap gerakan dakwah perlu merumuskan orientasi yang lebih spesifik dalam memadukan dakwah bi al-lisan dengan bi al-hal bagi daerah atau masyarakat di pedesan. Hal itu diperlukan kekhususan potensi, masalah dan tantangan yang dihadapi tidak sama dengan penduduk dan daerah perkotaan.

Kedua, setiap gerakan dakwah perlu merumuskan perencanaan dakwah yang muatan misinya tetap sesuai dengan ajaran Islam yang dipesankan al-Qur’an dan al-Sunnah, namun orientasi programnya perlu perlu berdasarkan data empirik dari potensi, masalah, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi masyarakat. Ketiga, berkaitan dengan bentuk dan jenis program. Program dan kegiatan dakwah bagi masyarakat pedesaan harus dirumuskan secara lebih bervariasi dan lebih kongkrit berdasarkan kebutuhan, permasalahan, dan tuntutan konkrit masyarakat dakwah setempat.

Sesuai dengan tuntutan pembangunan umat, maka gerakan dakwah hendaknya tidak hanya terfokus pada masalah-masalah Agama semata, tetapi mampu memberikan jawaban dari tuntutan realitas yang dihadapi masyarakat saat ini. Umat Islam pada lapisan bawah, tak sanggup menghubungkan secara tepat isi dakwah yang sering didengar melalui dakwah bi al-lisan dengan realitas yang begitu sulitnya kehidupan ekonomi sehari-hari. Untuk gerakan dakwah dituntut secara maksimal agar mampu melakukan dakwah bi al-hal (dalam bentuk nyata).[iii]   Dakwah harus mencakup perbuatan nyata (bi al-hal) yang berupa uluran tangan oleh si kaya kepada si miskin, pengayoman hukum, dan sebagainya. Perluasan kegiatan dakwah (desentralisasi) yang dibarengi oleh verifikasi mubaligh, akan sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat kita, yang juga semakin beragam, serta meluasnya diverensiasi sosial.

Dakwah dengan tindakan nyata berupa bantuan materi: pangan gratis, susu gratis, pakaian gratis, pengobatan  cuma-cuma, modal untuk membentuk koperasi kecil-kecilan, dana untuk pembuatan sumur-sumur bersih, memperbaiki gubuk tempat tinggal, membiayai sekolah anak-anak mereka, dan sebagainya. Pembangunan masjid juga merupakan bentuk dakwah nyata, tetapi dakwah pembangunan masjid ini tidak terlalu penting apabila jumlah jamaahnya semakin menipis.

Konsep dakwah juga adalah dakwah yang tidak menyempitkan cakrawala umat dalam emosi keagamaan dan keterpencilan sosial. Dakwah yang diperlukan adalah dakwah yang mendorong perluasan partisipasi sosial. Dakwah demikian juga akan memenuhi tuntutan individual misalnya, untuk saling menolong dalam mengatasi perkembangan atau perubahan sosial yang kian cepat.

Dalam persiapan untuk mulai melaksanakan dakwah bi al-hal diperlukan:

  1. adanya badan atau kelompok  orang yang terorganisasi, walaupun kecil dan sederhana.
  2. adanya tenaga potensial, terdiri dari beberapa orang dengan pembagian tugas sesuai kemampuan masing-masing seperti: tenaga pengelola/koordinator tenaga pelaksana di lapangan yang akrab dengan pekerja-pekerja sosial, tenaga yang berpengetahuan, tentang kesehatan, gizi, pertanian, koperasi dan sebagainya, dan tenaga mubaligh atau guru agama, dan yang terakhir tetapi sangat penting ialah tenaga penghimpun dana.
  3. adanya dana dan sarana-sarana yang diperlukan.
  4. adanya program walaupun sederhana, yang disusun berdasarkan data-data tentang sasaran yang dituju dan sebagainya.
  5. adanya kontak-kontak terlebih dahulu dengan sasaran yang dituju, dengan instansi-instansi dan orang orang yang terkait.

Setelah persiapan matang, maka sesuai dengan hari tanggal yang telah ditentukan, mulai operasional, dengan cara selangkah, dari tepi-tepi mulai masuk ke tengah, dari yang sangat rendah dan ringan hingga yang lebih kompleks. Setelah tiap-tiap langkah diayunkan, perlu diadakan evaluasi, dalam rangka untuk memperbaiki langkah-langkah lebih lanjut.

Dalam membina dan membimbing masyarakat, digunakan asas, memberi pancing agar mereka dapat mencari ikan sendiri, dan bukannya selalu memberi ikan yang sudah matang kepada mereka. Pada dasarnya rakyat mau bekerja, suka kerja, yang perlu adalah diberikan bimbingan dan contoh bekerja yang berdaya guna, misalnya dalam bercocok tanam, beternak dan sebagainya. Petani miskin, sering kesulitan dalam mendapatkan bibit unggul, pupuk dan modal untuk mulai bercocok tanam, diberi modal dan teknik menanam yang baik. Kerja mencangkul itu pekerjaan yang berat, memerlukan energi yang cukup, sehingga orang lapar jelas tidak mampu mencangkul. Pemberian sekedar bahan makanan sebagai modal kerja, sering sangat diperluan.

Di Desa banyak tenaga anak-anak, remaja, pemuda, wanita yang menganggur, tetapi kerena tidak ada yang dikerjakan. Mereka akan senang jika diberi bibit ternak, diajak bekerja gotong royong, diberi bimbingan kerajinan dan sebagainya.

Mereka membutuhkan bantuan seperti tersebut di atas, mereka akan menjadi akrab dengan siapa yang membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan mereka itu. Tabu bagi mereka untuk meminta-minta, tetapi mereka dengan senang hati menerima uluran tangan dari orang-orang yang mereka percayai. Demikianlah cara pendekatan dakwah bi al-hal, didekati kebutuhannya, didekati hatinya menjadi akrablah mereka. Dalam kondisi yang demikian mereka tidak akan sungkan-sungkan untuk diajak membangun desanya, membangun pribadinya dengan iman dan taqwa. 

 

 

 

  1. Menyikapi Kegagalan Dakwah Islam

Dalam menyikapi kegagalan dakwah islam, alangkah lebih baik kita melihat sisi positif dari kegagalan, yaitu sebagai pemacu kita untuk bisa lebih baik dalam berdakwah,  maupun dalam mencerna isi dakwah yang disampaikan pendakwah. Harus menjadi pemenang dalam berdakwah.

Sikap Mental Pemenang

  1. IKHLAS BERJUANG KARENA ALLAH. Keikhlasan adalah bekal dan kekuatan awal bagi seorang pemenang untuk berjuang dijalan Allah swt. Keikhlasan berjuang hanya karena Allah swt demi mengharap ridho dan cinta-Nya serta balasan surga-Nya membuat sang pejuang akan selalu memiliki energy untuk bekerja maksimal mewujudkan impian dan tugas besar yang diembannya. Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengatakan “keikhlasan akan membuat amal yang berat terasa ringan, sebaliknya ketidak ikhlasan membuat amal yang ringan terasa berat”. Milikilah keikhlasan, karena keikhlasan adalah energy terbesar yang dimiliki manusia, yang iblis laknatullah pun tidak sanggup menggoda dan menjatuhkan orang yang ikhlas berjuang karena Allah swt. Keikhlasan membuat seorang pejuang dan pemenang tidak peduli pada kritikan, pujian dan cacian orang lain, karena ukuran sukses kerjanya adalah pujian dan ridha Allah swt, Rasul-Nya dan Orang yang beriman, bukan dari manusia umumnya.
  2. MEMILIKI VISI DAN CITA-CITA UNTUK MENANG. Seorang pemenang adalah mereka yang bermimpi dan bertekad untuk menang. Tidak mungkin atau sangat jarang seorang pemenang adalah orang yang tidak punya keinginan dan cita-cita untuk menang. Karena jika begitu menangnya adalah kebetulan bukan keinginan. Sebagaimana Rasulullah saw bercita-cita besar untuk menaklukan Romawi dan Parsi. Ketika beliau memecahkan batu ketika menggali parit di Perang Khandaq, beliau mengatakan kelak Romawi dan Parsi akan kita taklukan. Ternyata cita-cita beliau itu terbukti dan terwujud oleh beliau dan para sahabat ra. Imam Syahid Hasan al Banna pun pernah mengatakan bahwa kenyataan hari ini adalah impian hari kemarin. Semua penemuan besar dan prestasi dahsyat seperti ditemukannya pesawat, mobil, computer, hand phone, senjata canggih, kekayaan besar, ataupun prestasi spektakuler dari atlit kelas dunia dalam perlombaan dan kompetisi olahraga, maka semuanya berawal dari impian dan cita-cita mereka untuk meraih kemenangan dan kesuksesan. Maka beranilah untuk bermimpi dan bercita-cita.
  3. YAKIN DAN OPTIMIS BISA MENANG. Seorang pemenang adalah mereka yang optimis dan yakin bahwa semua impian dan target yang ditetapkannya bisa tercapai jika mereka terus berusaha dan berdoa dengan konsisten. Mereka optimis pada kemampuannya. Terlebih dari itu mereka optimis pada pertolongan Allah swt. Karena Allah swt berkata “siapa yang menolong agama-Ku, maka Aku akan menolongnya”. Dalam Surat An nuur ayat 55 Allah swt berjanji bahwa kelak orang-orang beriman akan dijadikan-Nya pemimpin-pemimpin di muka bumi.
  4. BERANI MENCOBA DAN BERANI GAGAL. Sikap mental pemenang berikutnya adalah keberanian untuk mencoba dan berani untuk menghadapi kegagalan. Bagi seorang pemenang kegagalan itu biasa. Tapi mereka tetap belajar dari kegagalan. Karena kegagalan dapat mendewasakan kita dan mendidik kita. Kegagalan juga guru terbaik untuk menunjukkan dimana letak kekurangan kita. Kegagalan membuat mental kita harus lebih kuat dari sebelumnya, karena pastilah setiap kegagalan menyebabkan terpukulnya jiwa kita. sehingga untuk mengatasinya diperlukan jiwa yang kuat dan tahan banting. Pepatah mengatakan “nahkoda yang tangguh tidak dilahirkan di laut yang tenang, tapi dilaut yang berombak”. Sejarah Para pemenang diseluruh dunia, adalah sejarah kegagalan yang mereka lalui dengan tetap menjaga optimism sehingga akhirnya kegagalan itu gagal dalam menggagalkan mereka. Contoh nyatanya adalah Rasulullah saw, dapat dikatakan selama 13 tahun berdakwah di Mekkah, maka mayoritas dakwahnya menemui kegagalan yaitu penolakan dan permusuhan dari orang yang didakwahinya. Tapi hal itu tidak membuat nyali beliau ciut untuk terus berdakwah. Sikap inilah yang akhirnya menyebabkan keberhasilan beliau dalam berdakwah.
  5. PANTANG MENYERAH. Sikap mental seorang pemenang berikutnya adalah pantang menyerah dan selalu bangkit setiap kali terjatuh. Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah pribadi-pribadi yang pantang menyerah sebelum sebelum selesainya pertandingan ataupun sesudah selesainya pertandingan. Mereka berjiwa climbers yaitu berjiwa pendaki sejati yang terus berjalan dan berjalan menuju puncak impian dan cita-citanya. Mereka tidak hanya berhasil menaklukan madinah dan mekkah, tapi terus merangsek ke seluruh jazirah arab, bahkan 1/3 penjuru dunia akhirnya bisa dikuasai. Dalam perjalanannya mereka melalui kesulitan dan tantangan. Mereka kekurangan pasukan dan perlengkapan. Kendala ini tidak membuat mereka menyerah. Mereka bertarung sampai tetes darah penghabisan. Tapi alih-alih kalah, justru mereka meraih kemenangan, dengan modal sikap pantang menyerahnya tadi.  Contohnya ketika menghadapi pasukan Romawi yang bersenjata lengkap dengan 200 ribu pasukan, sementara ummat islam hanya sekitar 20 ribu orang dengan persenjataan tidak selengkap pasukan musuh. Tapi sikap mental pemenang dan pantang menyerah membuat mereka tidak gentar dan takut, justru semakin memicu nyalinya dan tertantang untuk mampu menaklukan musuh dengan kekuatan sebesar itu.
  6. 6. SABAR MENGHADAPI KESULITAN. Kesabaran adalah modal dasar dari para pemenang. Kesabaran membuat kualitas orang-orangnya melejit 10 kali lipat dibanding orang yang tidak sabar. Allah swt mengatakan dalam Surat Al Anfaal ayat 66 “Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. Pertarungan pastilah penuh dengan tantangan internal dan eksternal, maka hanya orang sabar yang dapat melewatinya.
  7. SIAP BERKORBAN DAN MEMBAYAR HARGA KEMENANGAN. Perjuangan untuk meraih kemenangan jelas menuntut pengorbanan dan harga yang mesti dibayar diawal. Pepatah mengatakan “tidak ada makan siang yang gratis”. Artinya tidak ada dalam hidup ini sesuatu yang kita peroleh tanpa sebab. Hokum alam dan sunnatullah berlaku, jika kita ingin akibat maka kita harus melakukan sebab. Maka pengorbanan dan kerja keras adalah sebab yang akan melahirkan kemenangan. Ada harga yang mesti kita bayar dulu diawal sebelum cita-cita dan keinginan kita raih. Allah swt berfirman, jika kita ingin mendapatkan Surga dan dibebaskan dari azab yang pedih, maka kita harus mau berkorban dengan harta dan jiwa kita di jalan Allah. (Surat Ash Shaf : 10 – 11). Bunker Hunt seorang milyarder mengatakan “Sukses itu sederhana saja. Pertama, putuskanlah apa yang anda inginkan secara spesifik. Kedua, putuskanlah anda bersedia membayar harganya untuk menjadikan itu terjadi”. Kehidupan bisa juga menjadi contoh bagi untuk menjadi pemenang maka diperlukan pengorbanan dan harga yang mesti dibayar. Sebuah yang tajam dan indah, berawal dari sebuah balok besi yang tidak begitu berharga. Tapi ketika besi itu dibakar, dipukul berkali-kali, direndam diair, dibakar lagi dan lagi, kemudian diasah, yang seandainya besi itu bernyawa maka dia akan berteriak kesakitan dengan penyiksaan itu. Tapi setelah semua pekerjaan itu selesai, yang tertinggal adalah sebilah pedang yang tajam dan indah yang harganya jauh lebih mahal dan jauh lebih berharga dari potongan besi tadi. Artinya jika kita ingin lebih tajam dan lebih kuat, kita harus siap menderita untuk meraihnya. Imam Ibnul Qayyim mengatakan “orang-orang pintar disetiap ummat sepakat bahwa kenikmatan itu tidak bisa didapat dengan kenikmatan pula. Siapa yang mementingkan kesenangan ia akan kehilangan kesenangan. Siapa yang berani menentang badai dan menghadapi rintangan, ia akan memperoleh kegembiraan dan kenikmatan”
  8. BANYAK BEKERJA, SEDIKIT BICARA.  Seorang pecundang itu adalah yang menginginkan kemenangan dan hanya menginginkannya, sedang seorang pemenang adalah yang menginginkan kemenangan dan melakukannya. Albert Einstein mengatakan 1 ons aksi lebih berharga dari 1 ton teori. Yang mengantarkan seseorang pada kesuksesan bukanlah ilmu. Karena betapa banyak orang berilmu seperti Profesor dan Doktor tapi hidupnya biasa-biasa saja. Yang mengantarkan seseorang pada kesuksesan adalah Ilmu yang diterapkan. Einstein, Ilmuwan terbesar abad ini, mengatakan bahwa “kejeniusan saya 1 % nya adalah kecerdasan dan 99 % nya adalah kerja keras,”. Artinya Einstein mengatakan semua prestasi dan karya yang dihasilkannya bersumber dari kerja keras dan tindakan yang dilakukannya. Inilah The Power of Action. Contohnya kenapa orang bisa tenggelam? Semua kita umumnya menjawab karena tidak bisa berenang. Tapi kalau kita lakukan percobaan dengan berendam seluruh tubuh kita di bak mandi yang airnya hanya setinggi 30 cm selama 30 menit apa yang terjadi? Ya kita juga akan mati dan tenggelam. Jadi orang tenggelam dan mati bukan karena tidak bisa berenang, tapi karena tidak bergerak.
  9. TIDAK MENCARI ALASAN. Seorang yang memiliki mental pemenang tidak suka mencari-cari alasan, untuk tidak melakukan apa yang harus dilakukannya. Alasannya hanya satu, yaitu alasan untuk melakukan, bukan alasan untuk tidak melakukan. Kalau kita perhatikan kebanyakan orang gagal adalah mereka yang selalu banyak alasan untuk tidak berbuat apa-apa dan menjadi siapa-siapa. Mereka berdalih dengan kesehatan yang buruk, ekonomi yang krisis, orang tua yang miskin, pendidikan yang rendah, fisik yang lemah, keberuntungan yang kurang, dana yang sedikit, jumlah yang kurang dan berbagai macam alasan lainnya untuk menjadi pembenaran atas ketidak siapan dan ketidak mauan untuk bertindak dan bertarung. Sedangkan seorang pemenang justru tidak mencari alasan apapun yang melemahkan atau menyebabkan dia tidak mau bekerja. Mereka menepiskan semua kekurangan dan kelemahan yang mungkin menjadi alasan bagi mereka untuk tidak melakukan apa-apa atau merasa pesimis sebelum bertarung.
  10. BERTANGGUNG JAWAB.Tidak hanya menepiskan semua alasan untuk lemah, para pemenang adalah yang bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Mereka yakin dengan Firman Allah swt “bahwa tidak akan terwujud perubahan kalau bukan dia yang akan merubahnya”. Pepatah mengatakan “kita tidak bisa merubah keadaan tapi kita bisa mengubah sikap kita menghadapi keadaan” atau kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa mengubah arah sayap pesawat kita”. orang yang bertanggung jawab tidak menyalahkan atau mengkambing hitamkan orang lain, tapi mereka bertanggung jawab terhadap semua hasil yang diperolehnya. Sikap ini membuat mereka selalu berusaha berbuat yang terbaik agar tidak mengalami kegagalan. Kehidupan ini adalah kumpulan keputusan yang mesti diambil dengan bertanggung jawab. Sehingga mereka selalu mengambil keputusan terbaik dalam hidupnya untuk bertindak yang terbaik.
  11. TEGUH PENDIRIAN (Istiqamah). Sikap mental seorang pemenang berikutnya adalah sikap teguh pendirian atau istiqamah. Allah swt menjanjikan kemenangan dan surga bagi orang yang meneguhkan pendirian mereka. ““Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; (QS 41:30-32). Secara bahasa Istiqamah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqamah dari kata “qaama” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqamah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.
  12. TAWAKKAL. Allah swt berfirman dalam Surat Ath Thalaq ayat 3 “ barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupkan kebutuhannya”. Tawakkal artinya berserah diri kepada Allah swt setelah berusaha. Allah swt menyuruh kita untuk tawakal setelah bertekad kuat dan berusaha “ Setelah berazzam maka bertawakallah kepada Allah”. Sikap tawakal akan mendatangan pertolongan Allah swt kepada kita, karena memang Dia-lah Pemilik Segala kekuatan, Penentu segala Kemenangan, Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa, yang bisa mengubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin cukup hanya dengan satu kata “kun” maka “fayaku” terjadilah dia. Sikap mental tawakkal juga menjadi tameng mental, sehingga kita tidak menjadi gelisah dan cemas menghadapi saat pertarungan ataupun menjadi depresi dan frustasi menghadapi kegagalan, karena kita sudah pasrah atas kehendak-Nya.

 

SIKAP MENTAL PECUNDANG

Sedangkan orang yang kalah atau para pecundang memiliki sikap mental yang berlawanan dengan para pemenang. Mereka cendrung putus asa, lemah semangat, tidak optimis, dan mudah menyerah. Berikut ini adalah sikap mental pecundang yang harus kita buang dari diri kita :

  1. BERJUANG KARENA SELAIN ALLAH DAN HANYA UNTUK MATERI SEMATA. Seorang pecundang adalah orang yang berjuang dalam rangka kepentingan duniawi semata. Dia melupakan tujuan yang hakiki yaitu untuk meraih ridha Allah swt. Rasulullah saw bersabda “ Setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan”. Seseorang yang berjuang bukan karena selain Allah, sangat mungkin dia memiliki niat untuk mendapatkan harta, tahta dan wanita/pria. Akibatnya jika semua targetnya itu sudah tercapai maka dia akan berhenti berjuang. Perjuangan bukan karena selain Allah akan menumbuhkan sikap pragmatis, egois dan indivdualis pada dirinya karena tujuannya adalah untuk meraih kenikmatan dan kesenangan pribadi sehingga sangat mungkin mengorbankan orang lain dan kepentingan bersama demi kepentingan pribadinya.
  2. BERCITA-CITA RENDAH : KALAU MENANG BAIK, KALAU TIDAK GIMANA LAGI. Seorang pecundang adalah mereka yang bercita-cita rendah dan tidak memiliki optimism dna keyakinan untuk menang, sehingga dia akan berkata kalau menang baik, kalau tidak gimana lagi. Akibatnya dia tidak berusaha sungguh-sungguh dan mungkin tidak kuat menghadapi ujian dan godaan yang mampu menghentikan langkahnya menuju tujuan.
  3. LEMAH SEMANGAT. Seorang pecundang semangatnya kadang naik kadang turun. Dia mudah dipengaruhi oleh orang lain. Kalau orang lain semangat maka dia ikut semangat, sebaliknya jika orang lain lemah maka dia ikut lemah juga. Lemah semangat akan menyebabkan mundur dan menyerah serta tidak optimal dalam bekerja. Semua itu disebabkan kepribadian yang lemah dan tidak memahami hakikat dan urgensi perjuangan untuk meraih kemenangan.
  4. TIDAK PERCAYA DIRI. Seorang pecundang adalah yang tidak percaya pada kemampuannya sendiri. Dia merasa minder dan malu untuk berbuat dan bekerja. Dia sangat sensitive terhadap kritikan. Kritikan dapat membuat harga dirinya hancur sehingga dia akan menarik diri dan melarikan diri dari masalah dan tantangan. Orang yang tidak percaya pada dirinya, bagaimana mungkin akan membuat orang lain percaya pada dia. Orang yang percaya pada dirinya adalah orang yang memiliki harga diri yang tinggi. orang yang memiliki harga diri tinggi memiliki cirri sebagai berikut :
  • Keyakinan besar
  • Prestasi tinggi
  • Penuh tanggung jawab
  • Berani sukses
  • Disiplin
  • Prilaku produktif ; ramah, pemaaf, sopan, mendukung, berani mengambil risiko
  • Tujuan spesifik
  • Tingkat energi tinggi

Sedangkan orang yang memiliki harga diri yang rendah memiliki cirri sebagai berikut:

  • Tidak percaya diri
  • Prestasi rendah
  • Menghindari tanggung jawab
  • Takut sukses
  • Tidak disiplin
  • Prilaku tidak produktif ; takut, merasa bersalah, tertekan, cemburu, hindari risiko
  • Tidak ada tujuan
  • Tingkat energi rendah
  1. TIDAK SABAR MENGHADAPI KESULITAN DAN MUDAH MENGELUH. Seorang pecundang adalah orang yang tidak sabar dan kuat menghadapi kesulitan dan ujian. Sehingga dia mudah mengeluh dan mudah putus asa
  2. TAKUT GAGAL. Seorang pecundang adalah orang yang takut gagal sehingga dia takut untuk mencoba dan bertindak. Sebelum bertindak dia sudah berpikir bahwa dia akan gagal, sehingga dia tidak melakukan apa-apa. Akibatnya dia tidak akan pernah berhasil. Karena keberhasilan berawal dari tindakan.
  3. MUDAH MENYERAH. Seorang pecundang adalah mereka yang mudah sekali menyerah. Mereka lari dari medan pertempuran. Mereka mundur dari gelanggang karena takut dan tidak siap menghadapi kesulitan dan resiko. Padahal selagi kita tidak menyerah, maka tidak ada yang namanya kegagalan. Thomas Alva Edison saja mengalami 10.000 kegagalan sebelum akhirnya berhasil menciptakan bola lampu. Padahal Allah swt melarang keras untuk mundur atau lari dari medan pertempuran, kecuali hanya berbelok untuk siasat perang ( Surat Al Anfaal : 45)
  4. MALAS DAN LALAI. Seorang pecundang adalah para pemalas dan lalai dalam bekerja. Mereka berhenti sebelum orang berhenti. Mereka terlambat untuk datang padahal orang sudah hadir. Mereka memperturutkan diri berada dalam zona nyaman dan status qup sehingga tidak siap dan tidak mau berubah. Mereka statis dan jumud. Dalam bekerja asal-asalan dan separo hati, hanya sekedar menuntaskan kewajiban, tidak ada determinasi dan target untuk berbuat dan bekerja yang terbaik. Inilah pecundang sejati. Mereka ini yang disebut sebagai Qaaidun yaitu orang yang duduk-duduk dan tinggal dirumah ketika mukmin yang lain pergi berjuang sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Surat At Taubah ayat 46. Mereka itulah orang yang dimurkai Allah dan merugi dunia dan akhirat.
  5. SUKA MENUNDA. Para pecundang adalah orang yang tidak disiplin dan suka menunda. Sering terlambat ketika rapat atau ketika pergi bekerja. Sehingga dia ditinggalkan oleh orang lain. Padahal kalau dia menyadari waktu sepersekian detik dalam lari 100 meter, bernilai pemecahan rekor dunia. Akibat suka menunda pekerjaan yang harus dilakukan hari ini, maka banyak waktunya terbuang percuma. Padahal waktu adalah asset yang paling berharga dimiliki manusia. Akibatnya tertunda pulalah kemenangannya, karena didahului dan disalip oleh orang lain.
  6. BANYAK BICARA, SEDIKIT BEKERJA. Para pecundang adalah orang yang hanya bisa bicara, bahkan cendrung besar mulut. Tapi tidak ada bukti dan realisasi yang Nampak dari kerja yang dilakukannya. Tidak sesuai antara perkataan dan perbuatannya. Omongan besar kerja kecil. Omongan besar hasil nihil.
  7. MUDAH GOYAH DAN PLIN PLAN. Seorang pecundang adalah mereka yang mudah goyah oleh rayuan dan mudah lari oleh kesulitan. Sehingga mereka tidak bertahan lama dalam suatu keadaan dan perjalanan. Mereka cendrung mencari aman dan bersikap pragmatis. Mereka berbuat kalau jelas menguntungkan bagi dirinya untuk sesaat saja. Akibatnya mereka akan selalu keluar jalur dan melenceng dari tujuan semula.
  8. BANYAK ALASAN DAN SUKA MENYALAHKAN. Seorang pecundang adalah mereka yang suka mencari alasan untuk tidak berbuat. Disamping itu kalau gagal mereka tidak mau bertanggung jawab, mereka cendrung menuding dan menyalahkan orang lain. Akibatnya mereka tergantung pada orang lain sehingga tidak akan bisa menjadi pemenang, karena kemenangan itu sepenuhnya adalah karena usaha kita. dalam Surat At Taubah ayat 45 dikatakan bahwa hanya orang-orang munafik saja yang meminta izin atau mencari uzur agar tidak ikut berperang, karena sikap pragmatis mereka dan ragu-ragu mereka. Mereka melihat perjuangan yang dilakukan beresiko dan penuh kesulitan sehingga mereka tidak mau ikut. Tapi jika hal itu mendatangkan keuntungan barulah mereka mau.
  9. LARI DARI TANGGUNG JAWAB DAN BERKHIANAT. Seorang pecundang adalah mereka yang lari dari tanggung jawab dan amanah yang diberikan padanya. Atau mereka berpura-pura bekerja dan pura-pura beriman, sedangkan dibelakang mereka mencemooh dan tidak mau bekerja. Padahal Allah swt melarang berkhianat terhadap Allah dan Rasul-Nya dan berkhianat terhadap amanah yang diberikan padanya. (QS Al anfaal : 27)

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dalam menyikapi kegagalan dakwah islam, alangkah lebih baik kita melihat sisi positif dari kegagalan, yaitu sebagai pemacu kita untuk bisa lebih baik dalam berdakwah,  maupun dalam mencerna isi dakwah yang disampaikan pendakwah. Harus menjadi pemenang dalam berdakwah. Memiliki sikap Mental Pemenang, tidak mudah menyerah dalam menyampaikan kebaikan.

 

  1. Saran
    1. Ikhlas sabar dalam menerima suatu kegagalan dalam berdakwah
    2. Jangan berputus asa
    3. Dalam berdakwah sebaiknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat sekitar.
    4. Dijalankan dengan hati tenang, sabar ikhlan karena Alloh SWT.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

www.scribd.com/doc/…/PENELITIAN-DAKWAH-andri-hasan

nisaillah.student.umm.ac.id/download-as-pdf/umm_blog_article_68.pdf

bisnisforkabas.blogspot.com/2009/12/menyikapikegagalan.htmlTembolok

menjawabdenganhati.wordpress.com/…/dakwah-versus-penyesat…

blog.re.or.id › General

dariilmu.blogspot.com/…/kegagalandakwahislam-mainstream.h…Tembolok

irdaloves.blogspot.com/…/kegagalandakwah-dan-harapan.htmlTembolok

https://pedanglangit.wordpress.com/…/kegagalan-metode-dakwaTembolok

 


 

 

 

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sanggar Anak Tangguh

Strong Children Strong Nation

What Planners Do

The Few, The Proud, The Planner

kalipaksi dot com

Melu Memayu Hayuning Bawono

ARDAN SIRODJUDDIN

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan pendidikan Indonesia

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

%d blogger menyukai ini: