Beranda > Uncategorized > MENGGAGAS MODEL KOMUNIKASI DAKWAH “BIL-HAL” DI PERDESAAN

MENGGAGAS MODEL KOMUNIKASI DAKWAH “BIL-HAL” DI PERDESAAN

 

Komunikasi dakwah ibarat bohlam kehidupan, yang memberi cahaya dan menerangi jalan kehidupan yang lebih baik, dari kegelapan menuju terang benderang, dari keserakahan menuju kedermawanan. Bila mengikuti perkembangan berita di berbagai media tentang prilaku yang mengarah pada merosotnya nilai moral dan akhlak manusia, maka komunikasi dakwah merupakan bagian yang terpenting bagi umat tatkala manusia dilanda kegersangan spritual, rapuhnya akhlak, maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme, ketimpangan sosial, kerusuhan, kecurangan dan sederet tindakan-tindakan tidak terpuji lainnya. Jelas bahwa komunikasi dakwah merupakan seruan atau ajakan kepada keinsyafan, atau berusaha mengubah situasi yang buruk kepada situasi yang lebih baik dan sempurna…………..

Sebagai suatu istilah, komunikasi dakwah merupakan konsep khas islam yang mengandung pengertian menyeru kepada yang positif, yaotu positif menurut nilai dan norma agama islam. Sedangkan pemahaman secara operasional komunikasi dakwah adalah suatu usaha mengubah sikap dan tingkah laku orang dengan jalan menyampaikan informasi tentang ajaran islam, dan menciptakan kondisi serta situasi yang diharapkan dapat mempengaruhi sasaran dakwah, sehingga terjadi perubahan ke arah sikap dan tingkah laku positif menurut norma-norma agama.

Islam sebagai agama yang dianut sebagian besar rakyat indonesia, komunikasi dakwah merupakan tugas suci panggilan agama islam dalam membina umat untuk menyampaikan pesan-pesan agama dan pembangunan di negeri yang mayoritas muslim ini. Komunikasi dakwah merupakan upaya dalam perubahan sosial, budaya dan agama. Untuk terjadinya proses perubahan menuju ke arah yang lebih baik, diperlukan adanya komunikasi dakwah melalui “dialog islami” yaitu dialog lisan, dialog amal, dialog intelektual, dialog seni dan dialog agama.

Islam adalah agama dakwah, ia berinteraksi dengan manusia seutuhnya, tubuh dan jiwa raganya, akal dan hatinya. Kehadiran islam sebagai agama dakwah sudah barang tentu membawa misi rahmat untuk semuanya”rahmatan lil alamin” perlu disebarluaskan dan di jelaskan melalui proses komunikasi. Tujuan dilaksanakan komunikasi dakwah untuk menyampaikan kebenaran dan mengajak manusia ke jalan tuhan, jalan yang benar, memerintahkan yang ma’ruf (kebajikan) dan mencegah yang mungkar (kebathilan). Komunikasi dakwah juga bertujuan untuk mempengaruhi cara berpikir manusia, cara merasa, cara bersikap, dan berindak, agar manusia bertidank sesuai dengan prinsip-prinsip islam.

Kurangnya pengetahuan agama akan berpengaruh terhadap kesadaran manusia dalam melaksanakan amal ibadah dan beragama. Norma dan aturan yang sudah ada sulit diterapkan dalam hidupnya sebagai disiplin diri, kessemua itu dapat terjadi karena kurangnya penanaman sejak kecil, atau bisa pula karena pengaruh lingkungan sekitarnya yang jauh dari nilai-nilai agama dan moral, sehingga seringkali dalam sikap dan tingkah lakunya da yang kurang sesuai dengan jaran agama yang dilandaskan Al-qur’an dan As-Sunnah.

Melihat kondisi demikian, maka lembaga-lembaga dakwah harus berperan dalam suatu tindakan atau upaya pembenahan kembali nilai-nilai moran dan ajaran agama pada kehidupannya. Nilai moral dan ajaran agama tersebut bukan hanya dikenal dan dimengerti akan tetapi harus dilembagakan dan diberdayakan agar berlaku dalam kehidupan sehari-hari, karena nilai-nilai moral dan ajaran agama khususnya islam mampu menjadi kendali dan pedoman dalam kesejahteraah hidup manusia.

Hingga kini kegiatan lembaga-lembaga dakwah islam yang dikelola oleh kalangan cendekiawan masih memberikan kesan eksklusif dan intelektual, belum mampu memberikan sentuhan langsung yang dapat dirasakan masyarakat miskin. Kebanyakan kegiatan tersebut berbentuk sarasehan, diskusi, seminar dan pernyataan-pernyataan yang bersifat politis atau kegiatan publisistis (Publicity Seeking) dalam rangka kepentingan partai. Sedangkan kegiatan komunikasi dakwah yang terjun ke masyarakat masih relatif sedikit.

Banyak pelaku dakwah kurang terjun ke masyarakat terutama di perdesaan. Semuanya masih melakukan kegiatan yang berciri elitis. Kalaupun ada kegiatan yang “merakyat” sifatnya masih memberi kesan amat politis. Semua lembaga atau organisasi islam pada hakekatnya adalah lembaga dakwah dan tentu semuanya mempunyai program dakwah. Akan tetapi masih kurang nyambung dengan lapisan masyarakat islam yang ada di perdesaan. Komunikasi dakwah memang mempunyai banyak aspek dan bentuk. Hingga kini yang paling banyak dilakukan adalah dakwah bil lisan (penyampaian dakwah melalui lisan), padahal tuntutan masayrakat islam sekarang tidak Cuma sekedar dakwah “penyuluhan” dan juga ceramah dari para ustad kondang melalui televisi.  Terutama di perdesaan atau masyarakat periferal, kaum duafa disana sangat membutuhkan komunikasi dakwah bil hal (dakwah dalam bentuk tindakan).

Muhammad Natsir mengatakan bahwa ada tiga metode komunikasi dakwah yang relevan disampaikan di tengah masyarakat yakni dakwah bil lisan, bil kalam dan yang terakhir bil (hamdan daulay, 2001:4). Dalam prakteknya dewasa ini, baru dakwah bil lisan (komunikasi secara lisan) yang sering dilakukan. Sementara dakwah bil kalam (komunikasi secara tulisan) dan bil hal (komunikasi dengan tindakan) masih jauh dari harapan. Biarpun demikian, dewasa ini banyak organisasi/lembaga dakwah islam mengambil peran dalam program dakwah bil hal seperti Muhammadiyah. Hal ini bisa dilihat pada produk-produk yang dikembangkan oleh Muhammadiya sebagai konsekuensi dakwahnya seperti sekolah, madrasah, panti asuhan, koperasi dan sebagainya. Dari dakwah model Muhammadiyah tersebut kita dapat melihat bahwa dakwah tidak hanya dengan cara penyampaian secara lisan, tetapi juga dengan keteladanan dengan perbuatan nyata.

Persoalannya adalah sudahkan praktik komunikasi dakwah yang dikembangkan saat ini mampu memberikan solusi pemecahan masalah bagi masyarakat? Ataukah pelaksanaan komunikasi dakwah lebih banyak dilakukan dalam bentuk lisan (bil lisan), baik dilakukan kepada masyarakat yang berpendidikan tinggi maupun masyarakat yang berpendidikan rendah terutama di perdesaan. Berkaitan dengan pelaksanaan komunikasi dakwah, maka dalam pembahasan model komunikasi dakwah yang tepat terutama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan.

Paradigma Komunikasi Dakwah di Perdesaan

Dakwah bukanlah sekadar retorika belaka, tetapi harus menjadi teladan tindakan dakwah pembangunan secara nyata. Hal ini karena semakin meluasnya dan semakin kompleksnya kebutuhan masyarakat yang perlu menerima dakwah. Jadi dakwah harus menjadi “komunikasi non verbal” dalam arti, lembaga dakwah tidak hanya berpusat di masjid, masjid, forum-forum diskusi, pengajian dan semacamnya. Dakwah harus mengalami desentralisasi kegiatan. Ia harus berada di bawah, dipermukiman kumuh, di rumah-rumah sakit, teater-teater, studio-studio film, musik, kapal laut, kapal terbang, pusat-pusat perdagangan, ketenagakerjaan, pabrik-pabrik, tempat-tempat gedung pencakar langit, bank-bank, pengadilan dan sebagainya (andi abdul muis, 2001:133).

Model komunikasi dakwah yang dilakuka secra verbal, oratorik dengan teks-teks al-qur-an dan sunnah menempatkan dan pelakunya eksklusif selain menyimpang dari rahmatan lil alamin dan juga dari tradisi kenabian Muhammad SAW. Hal itu menyebabkan kegagalan menampilkan islam sebagai sesuatu yang menarik dan baik bagi semua orang dalam ragam hirarki keagamaan (santiri abangan) faham keagamaan, golongan dan kelas. Bahkan merangkap Islam menjadi agama elit yang tidak terbuka bagi orang awam dan si miskin serta hanya beredar di dalam dirinya sendiri (abdul munir mulkan, 2002:215).

Dakwah penting untuk mempertimbangkan tujuan lebih luas yang bisa diperankan hampir semua orang yang berminat menyampaikan praksis dan praktek kebaikan, keadilan, kesejahteraan, dan kecerdasan. Dakwah adalah kegiatan seni budaya, politik, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, produksi, distribusi, jasa perdagangan, pemasaran, pendidikan dan pers serta pembelaan mereka yang tertindas, melarat dan kelaparan. Dakwah bukan hanya khutbah, pengajian dan kepesantrenan atau haya lembaga dengan nama resmi islam yang hanya melibatkan suatu kelas keagamaan tersendiri (santri).

Hingga kini kegiatan kelembagaan/lembaga-lembaga dakwah islam yang dikelola oleh kalangan cendekiawan masih memberikan adanya ciri-ciri intelektual yang diha salon. Masih kebanyakan diantara kegiatan itu berbentuk sarasehan, diskusi, seminar dan pernyataan-pernyataan yang politis atau kegiatan publisitas. Sedangkan kegiatan di lapangan masih relatif sedikit. Banyak diantara lembaga dakwah kurang terjun ke bawah. Semua masih memberikan kesan yang elitis. Kalaupun ada kegiatan yangmerakyat sifatnya masih memberi kesan amat politis. program-program dakwah yang dijalankan masih kurang nyambung dengan lapisan masyarakat bawah (andi abdul muis, 2001:143).

Oleh karena itu, sudah tiba waktunya bagi lembaga-lembaga dakwah islamiah untuk memulai program pembaruan dakwah menyeluruh dan program masuk desa secara besar-besaran. Disini perlu ada beberapa langkah dan orientasi gerakan dakwah yang perlu dirumuskan ulang. Pertama, setiap gerakan dakwah perlu merumuskan orientasi yang lebih spesifik dan memadukan dakwah bil lisan dengan bil hal bagi daerah atau masyarakat di perdesaan. Kedua, setiap gerakan dakwah perlu merumuskan perencanaan dakwah yangmuatan misinya tetap sesuai dengan jaran islam yang dipesankan al-qur’an dan al-sunnah, namun orientasi programnya perlu berdasarkan data empirik dari potensi, masalah, kebutuhan dan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat perdesaan. Ketiga, berkaitan dengan bentuk dan jenis, program dan kegiatan dakwah bagi masyarakat perdesaan harus dirumuskan secra lebih bervariasi dan lebih konkrit berdasarkan kebutuhan, permasalahan dan tuntungan konkrit masyarakat dakwah setempat.

Sesuai dengan tuntutan pembangunan umat, maka gerakan dakwah hendaknya tidak hanya terfokus pada masalah-masalah agama semata, tetapi mampu memberikan jawaban dari tuntutan-tuntutan realitas yang dihadapi masyarakat perdesaan saat ini. Umat islam pada lapisan bawah, tidak sanggup menghubungkan secra tepat isi dakwah yang sering di dengar melalui dakwah bil lisan dengan realitas yang begitu sulitnya kehidupan ekonomi sehari-hari. untuk gerakan dakwah dituntut secara maksimal agar mampu melakukan dakwah bil hal (dalam bentuk nyata). Dakwah harus mencakup perbuatan nyata yang berupa uluran tangan oleh si kaya kepada si miskin, pengayoman hukum dan sebagainya. Perluasan kegiatan dakwah (desentralisasi) yang dibarengi oleh verifikasi muballigh, akan sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat perdesaan, yang juga semakin beragam, serta meluasnya diverensiasi sosial (andi abdul muis, 2001:133).

Dakwah dengan tindakan nyata harus diarahkan dalam rangka kesehahteraan masayrakat dengan cara memberikan bantuan berupa materi: pangan gratis, susu gratis, pakaian gratis, pengobatan Cuma-Cuma, modal untuk membentuk koperasi kecil-kecilan, dana pembuatan sumur-sumur bersih, memperbaiki gubug tempat tinggal, membiayai sekolah anak-anak mereka dan sebagainya. Pembangunan masjid juga merupakan bentuk dakwah nyata, tetapi dakwah pembangunan masjid ini tidak terlalu penting apabila jumlah jamaahnya semakin menipis.

Konsep dakwah juga adalah dakwah yang tidak menyempitkan cakrawala umat dalam emosi keagamaan dan keterpencilan sosial. Dakwah yang diperlukan adalah dakwah yang mendorong perluasan partisipasi sosial. Dakwah demikian juga akan memenuhi tuntutan individual misalnya, untuk saling menolong dalam mengatasi perkembangan atau perubahan sosial yang kian cepat.

Dalam persiapan untuk memulai melaksanakan dakwah bil hal diperlukan:

  1. Adanya badan atau kelompok orang yang terorganisasi, walaupun kecil dan sederhana.
  2. Adanya tenaga potensial, terdiri dari beberapa orang dengan pembagian tugas sesuai kemampuan masing-masing seperti: tenaga pengelola/koordinator tenga pelaksana di lapangan yang akrab dengan pekerja-pekerja sosial, tenaga yang berpengetahuan, tentang kesehatan, gizi, pertanian, koperasi dan sebagainya dan tenaga muballigh atau guru agama. Dan yang terakhir tetap sangat penting adalah penghimpun dana.
  3. Adanya dana dan sarana-sarana yang diperlukan.
  4. Adanya program walaupun sederhana, yang disusun berdasarkan data-data tentang sasaran yang dituju dan sebagainya.
  5. Adanya kontak-kontak lebih dahulu dengan sasaran yang dituju, dengan instansi-instansi dan orang yang terkait.

Dalam membina dan membimbing masyarakat, digunakan asas memberi pancing agar mereka dapat mencari ikan sendiri, dan bukannya selalu memberi ikan yang sudang matang kepada masyarakat (agung suseno seto dalam http://eprints.ums.ac.id). Pada dasarnya rakyat mau bekerja, suka kerja, yang perlu adalah diberikan bimbinan dan contoh bekerja yang berdaya guna, misalnya dalam bercocok tanam, berternak dan sebagainya.

Petani miskin, sering kesulitan dalam mendapatkan bibit unggul, pupuk dan modal untuk mulai bercocok tanam, diberi modal dan teknik bercocok tanam yang baik. Kerja mencangkul itu pekerjaan yang berat, memerlukan energi yang cukup, sehingga orang lapar jelas tidak mampu mencangkul. Pemberian sekadar bahan makanan sebagai modal kerja, sering sangat diperlukan.

Di desa banyak tenaga anak-anak, remaja, pemuda, wanita yang menganggur, karena tidak ada yang dikerjakan. Mereka akan senang jika diberi bibit ternah, diajak bekerja bergotong-royong, diberi bimbingan kerajinan dan sebagainya. Dalam kondisi ini terjalin hubungan yang akrab antara juru dakwah dengan masyarakat. Pendekatan ini dilakukan berdasarkan kebutuhan mereka dan kedekatan hati. Dalam kondisi demikian masyarakat tidak akan sungkan-sungkan untuk diajak membangun desanya, membangun pribadinya dengan iman dan taqwa.

Menurut amrullah ahmad (1985:65) eksistensi dakwah selain berperan sebagai pengubah terhadap realitas sosial yang ada kepada realitas sosial yang baru, juga sesungguhnya dipengaruhi oleh perubahan sosiokultural yang terhadi. Dengan demikian dalam komunikasi dakwah perlu mengenal dan memahami perubahan-perubahan  itu, sehingga metode dan materi dakwah dapat diselaraskan dengan suasana keadaan masyarakat yang berubah.

Komunikasi dakwah yang merakyat

Para da;I (juru dakwah) yang merakyat (dekat di hari rakyat kecil) adalah figur-figur yang dibutuhkan masyarakat. Mereka bukan “da’i elit” yang mahir berpidato dan berseminar di gedung-gedung mewah dan hotel-hotel berbintang dijemput dengaj mobil mewah. Para da’I rakyat itu mempunyai metode dakwah yang sangat menyentuh hati dan realitas kehidupan mayoritas umat islam yang hidup pada garis kemiskinan. Sambil melakukan bimbingan aqidah mereka juga bekerja membantu rakyat di desa-desa. Misalnya membuat sumur, mengatapi gubuk-gubuk, mengajar anak-anak mereka mengaji dan membaca dan sebagainya. Dakwah yang nyata berupa pembangunan masjid, musholla yang memang dibutuhkan, tetapi dakwah yang Cuma berupa pembangunan masjid dan mushola tidak terlalu banyak gunanya kalau masih banyak persoalan masyarakat yang belum tertangani. Kedekatan komunikasi antara da’I dengan jamaah sangat dibutuhkan dalam rangka memakmurkan masyarakat.

Lembaga-lembaga dakwah islamiah perlu memulai program pembaruan dakwah menyeluruh dan masuk desa secara berkelanjutan dengan cara menerapkan model komunikasi dakwah perdesaan dengan dua dimensi, yakni dakwah penyuluhan seperti kegiatan pengajian/ceramah dan dakwah nyata yang berupa memberikan bantuan tenaga dan materi yang langsung bisa dirasakan oleh masyarakat. Dakwah tidak selalu berbekal dana yang melimpah. Dengan dana terbatas mereka “berjihat fi sabilillah” (berdakwah bil lisan dan dakwah bil hal) di tengah ribuan muslim yang hidup dibawah garis kemiskinan. Dengan berbekal semangat tinggi dan ridho allah, mereka berupaya membendung arus kemiskinan di kalangan kaum dhuafa. Bukankah kefakiran mudah membawa kepada kekufuran. Dalam kondisi tertentu bekal dana dibutuhkan ketika menghadapi masyarakat miskin yang harus diberi bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka tidak cukup hanya diberi ceramah (dakwah bil lisan) tentang nilai-nilai agama, namun juga bagaimana mereka mendapatkan bantuan makanan, pakaian, obat-obatan dan sebagainya. Pada masyarakat miskin kebutuhan yang semakin mendesak adalah “melepaskan diri dari himpitan hidup” yang semakin berat. Pada kondisi ini maka dapat dibuat asumsi, bahwa komunikasi dakwah dengan cara “konvensional” tidak lagi efektif bagi lapisan bawah. Komunikasi dakwah dengan “menakut-nakuti” meberikan peringatan dan dakwah yang persuasif semata-mata tidak lagi berdampak pada kejujuran, kesetiakawanan atau tanggungjawab sosial di kalangan umat.

Masyarakat di lapisan bawah makin tidak sanggup menghubungkan secara tepat isi dakwah yang sering di dengar (komunikasi dengan lisan) dengan realitas kehidupan sosial ekonomi sehari-hari. sebab metode komunikasi dakwah yang “konvensional”, memang tidak mengajarkan, misalnya mengatasi persoalan langkanya minyak tanah sebagai konsekuensi program konversi minyak tanah ke gas, cara mengatasi inflasi moneter, cara menghasilkan produksi pertanian yang memadai, pemberantasan hama dan sebagainya. Dalam komunikasi dakwah tidak menerangkan bagaimana cara ilmiah untuk menghindari “berbuat kerusakan di muka bumi” sebagai dosa besar. Itu berarti, komunikasi  dakwah yang merakyat tidak lagi semata-mata meruapakan ajaran untuk “berfilsafat” tentang akhirat, tentang surga, neraka atau menunaikan ibadah wajib dan sebagainya. Dakwah sekarang dan masa mendatang haruslah dakwah yang merakyat, berbaur dengan masyarakat untuk mengatasi persoalan-persoalan kemiskinan yang selalu menghimpitnya. Ceramah-ceramah yang bertemakan kebutuhan nyata sosial ekonomi, tanpa meninggalkan aspek-aspek sakralisasi. Komunikasi dakwah tidak lagi sekadar bermaksna sebuah retorika di pusat-pusat kegiatan keagamaan, ia juga harus menjadi komunikasi non verbal (dakwah bil hal).

Lembaga dakwah tidak hanya berpusat di masjid-masjid, forum-forum diskusi, pengajian dan semacamnya. Dalam pengertian demikian, komunikasi dakwah harus mengalami desentralisasi kegiatan. Lembaga terssebut harus berada di bawah, dekat dengan masyarakat, di permukiman kumuh, rumah-rumah sakit, pabrik-pabrik, pasar-pasar, tempat pembangunan gedung dan sebagainya.

Pendekatan Komunikasi Dakwah Bagi Msyarakat Perdesaan

Akibat modernisasi, kondisi masyarakat dewasa ini telah menyimpang dari keseimbangan menutju materialisme ekstrim dan kecenderungan kepada keduniaan. Dalam kondisi yang demikian maka gerakan dakwah harus bersandar pada kekuatan spritual karena masyarakat telah tersimpangkan ke arah kecenderungan kepada keduniaan. Bentuk yang paling tepat dari gerakan dakwah ini adalah dakwah yang bermuatan seimbang antara dunia dan akhirat.

Selanjutnya pendekatan komunikasi dakwah dalam menghadapi perubahan masyarakat tersebut dengan sendirinya harus mempertimbangkan sejauhmana transformasi buday telah berlangsung sebagai akibat dari pembangunan yang dilaksanakan. Kenyataan menunjukkan bahwa intensitas transformasi budaya tidak sama karena setiap wilayah mempunyai karakteristik dan akan budaya yang tidak sama. setidaknya perbedaan itu nampak menonjol pada masyarakat desa dan masyarakat kota, yang mana transformasi budaya pada masyarakat kota berlangsung lebih intensif dan lebih meluas dari pada masyarakat desa. Perbedaan-perbedaan kondisional dari struktur budaya ini menyebabkan perlunya dakwah dilakukan dengan alasan asas hikmah, yaitu model pendekatan dakwah yang berbeda bagi masyarakat desa dan masyarakat kota.

Menurut Koentowijoyo karena kota mulai terasa kejenuhan terhadap gejala-gejala modern maka pendekatan dakwah yang cocok adalah dengan pendekatan tasawuf yang lebih menekankan pada aspek esoteris dan estetis. Sedangkan untuk di desa lebih menekankan dakwah dengan langgam etis dengan maksud memajukan umat di desa. Pendekatan etis adalah dakwah yang berorientasi pada urusan muamalah sebagai perwujudan langsung dari cita-cita tertib dan susila agama. Dakwah dengan cara ini lebih ekspansif, tidak saja menyentuh perasaan umat sebagai unit keagamaan tetapi juga sebagai unit sosial (ahmad amrullah, 1985;71).

Ada fenomena yang menarik dalam komunikasi dakwah saat ini, dakwah yang menarik justru model dakwah seperti aa gym, ustad jefri, ustad haryono, ustad arifin ilham dan sebagainya. Karakter masyarakat lebih menyukai dakwah yang menghibur, melawak, menyejukkan. Hal ini bagus untuk sementara waktu. Mampu menyejukkan problem stress di msayrakat dengan kepiawaian komunikasi dakwah mereka. Namun, untuk jangka panjang masyarakat membutuhkan dakwah yang melahirkan peresapan nilai-nilai yang lebih ampuh, dan pemecahan persoalan masyarakat. Dakwah perkotaan justru menganut tren kesejukan sesaat, mengobati kegelisahan dengan nilai-nilai yang dangkal. Mengajak para jamaah untuk bertobat saat mengikuti pengajian dengn menangis, namun setelah keluar dari majlis, kembali menjalani kehidupan yang individualistis, materialistis. Dampak dari dakwah terlihat masih belum membawa perubahan dan struktur sosial bagi kaum miskin.

Sedangkan di perdesaan dakwah islam diharapkan berperan sebagai penunjang pembangunan dengan merangsang fungsi kekhalifahan dari objeknya, sementara di kota yang telah mengalami individualisasi dan alienasi seabgai efek samping dari pembangunan, dakwah ilsam berperan sebagai penawar dengan merangsang fungsi pengabdian dari masyarakat objek dakwah. Dengan model pendekatan yang berbeda, dengan sendirinya substansi materi komunikasi dakwah yang disampaikan pun secara tematik harus berbeda. Untuk msayrakat kota materi dakwah lebih berorientasi ke arah hidayah sentris, yaitu materi aya g akan menggugah kesadaran objek dakwah bahwa keselamatan hanya akan diperoleh dengan petunjuk islam. Mereka harus disadarkan tentang kesempurnaan diri manusia, sehingga mereka insyaf bahwa hidayah tuhan itu adalah kebutuhan asasi mereka sendiri. Materi di bidang pembinaan persatuan umat pun haru lebih menampilkan sisi emosi keagamaan, sehingga hubungan-hubungan interpersonal yang menyegarkan dapat hidup kembali. Sementera untuk msayrakat perdesaan materi dakwah harus berorientasi rasio sentris, yaitu pendekatan dengan materi yang menggugah daya rasio mereka  dalam beragama sehingga lebih mendorong fungsi kekhalifahan mereka dalam kehidupannya (alishariati).

Masalah yang banyak menyentuh bidang dakwah adalah materi dakwah. Komunikasi dakwah tidak hanya di tempat ibadah atau lewat lembaga khusus seperti pengajian, khotbah dan sebagainya. Wawancara pers, tulisan kolom, teater, film cerita, novel dan sejenisnya terbilang dakwah bil lisan jika membawa pesan keagamaan.

Agaknya, materi dakwah akan banyak berubah di masa-masa kini (berkembangnya dakwah bnil hal), bersamaan dengan itu akan terjadi pula keragaman gaya retorika para cendekiawan muslim mapun para juru dakwah (da’i) dengan retorikanya yang sangat persuasif. Namun masih jadi tandatanya, apakah gaya semacam itu cukup kuat untuk mempengaruhi sikap audiens. Dalam hal materi dan tema dakwah agaknya akan muncul ulama cendekiawan yang menawarkan tema “diplomatis” dan netral atau tidak “konfrontatif”, tidak “keras”. Untuk negara yang sedang membangun dan amat tinggi kepekaanya terhadap kestabilan nasional, paradigma komunikasi dakwah dengan gaya eufemistis agaknya dapat berkembang terutama pada khotbah-khitbah formal di masjid-masjid.

Selama ini metode dakwah mengandung bahasa yang keras atau “menakut-nakuti” umat. Model komunikasi dakwah persuasif dan halus yang paling tepat, tidak “menakut-nakuti” umat, meski hukum dakwah (khotbah), ceramah agama, dan sebagainya memang merupakan peringatan bagi umat. Ungkapan kebebasan menyatakan pendapat “katakanlah kebenaran sekalipun pahit” tidak berlaku mutlak. Sebaiknya khotbah atau pernyataan pendapat dilakukan dengan cara yang bijaksana dan etis.

Pluralisasi Wadah Dalam Komunikasi Dakwah

Setiap lembaga agama pada kahekatnya adalah lembaga dakwah. Dakwah itu sendiri mempunyai ciri komunikasi politik. Karena itu lembaga agama juga berfungsi sebagai wadah komunikasi politik, meski bukan dalam arti partai atau kekuasaan.

Keulamaan maupun kecendekiawa nan berkembanga bersama lembaga-lembaga agama. Dahlu aktivis lembaga-lemabaga agama islam haruslah kiai, ahli agama atau guru madrasah. Ulama dalam pengertian cendekiawan dengan pengetahuan agama mendalam dan ilmu pengetahuan umum masih sanat sedikit. itulah sebabnya dahulu ulama, kiai, guru-guru agama, imam-imam desa dan semavamnya diberi peran sentral dalam hal agama dan kehidupan sosial (duniawi). Mereka adalah tokoh-tokoh opini disamping tokoh-tokoh  agama. Mereka juga berfungsi sebagai “pakar” berbagai bidang. Boleh dikatakan, merekalah pusat kehidupan politik, sosial yang polymorfis (mengusai berbagai bidang).

Sekarang sudah jauh berbeda. Kini telah terjadi desentralisasi dan diversifikasi peranan tokoh-tojoh spritual (agama). Orang tidak lagi perlu bertanya pada para ulama, kiai dan sejenisnya untuk soal yang non agama. Sudah banyak pakar-pakar itu juga paham agama islam. Mereka adalah para ulama-ulama cendekiawan-cendekiawan muslim. Misalnya, ahli kesehatan, ahli pertanian, peternakan, teknik, hukum dan sebagainya. Kini sudah hampir semua tokoh-tokoh ilmuwan islam yang berciri monomorphis opinion leaders, yang berspesialisasi dalam bidang-bidang keahlian (kepakaran tertentu).

Perkembangan saat ini telah mendorong meningkatnya jumlah lembaga dan organisasi-organisai baru dalam masayrakat islam tanah air. Misalnya telah lahir majlis dakwah isalmia, dewan masjid indonesia, muslim pancasila, ikatan masjid dan msuholla indonesia, ICMI dan sebagainya. Iklim primordial dalam islam makin jadi realitas. Namun hal itu tidak perlu diberi konotasi negatif. Itu juga bisa diberi makna perluasan strategi dakwah islam. Dakwah tentu mengandung unsur komunikasi politik. Tiap lembaga agama, apa pun nama resminya, pasti juga berfungsi dakwah (komunikasi sosial dan komunikasi politik). Bahkan di perdesaan kegiatan komunikasi dakwah tidak selalu membawa “embel-embel” organisasi formal yang sudah besar. Karena kelompok-kelompok atau wadah yang sudah ada di tingkat mereka dapat memfungsikan diri dalam berdakwah di tengah-tengah masyarakat. Kelompok-kelompok non formal seperti kelompok pengajian malam jumatan, takmir masjid, kelompok pengajian ahad pagi dan sebagainya terkadang justru berperan besar dalam menghubungkan kepentingan warga dengan materi dakwah yang disampaikan.

Ada sisi lain yang menarik yakni kegiatan dakwah dengan menonjolkan ciri “resmi” organisasi atau lembaga agama (islam). Ini karena keterlibatan pejabat-pejabat dengan kapasitas pribadi dalam organisasi-organisasi atau lembaga-lemabga islam. Nyaris semua organisasi (wadah) umat islam dipimpin atau diarahkan pejabat negara.

Keadaan ini mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya dalah dalam hal legalitas, legitimasi “keamanan”. Kelemahannya adalah dalam hal “kebebasan” atau independensi, tetapi, meskipun ada lembaga-lembaga agama yang dianggap “independen” toh mereka juga tetap berada dalam sistem politik yang berlaku. Lebih baik memakai cara penilaian yang optimis (positif). Makin banyak wadah makin banyak pula sarana penyaluran aspirasi yang tersedia.

Sisi lain, “pluralisasi” wadah yang makin tumbuh mungkin akan memperluas pluralisasi sikap budaya dan cara mempersepsi berbagai masalah sosial maupun politik yang menuntut jawaban dari agama. Selanjutnya, hal itu bisa memperluas keanekagaraman pendapat, kegiatan dakwah dan cara melakukan komunikasi politik. Iklim demokrasi pun akan lebih besar.

Memberdayakan Masyarakat Melalui Komunikasi Dakwah

Pemberdayaan masyarakat menurut muhammad iqbal bahua dianggap sebagai proses yang memungkinkan kalangan individual mapun kelompok merubah keseimbangan kekuasaan dalam segi sosial, ekonomi maupun politik pada sebuah masyarakat ataupun komunitas. Kegiatan pemberdayaan dapat mengacu pada banyak kegiatan, diantaranya adalah meningkatkan kesadaran akan akdanya kekuatan-kekuatan sosial yang menekan orang lain dan juga pada aksi-aksi untuk mengubah pola kekuasaan di masyarakat.

Upaya dalam komunikasi dakwah pada dasarnya merupakan suatu upaya pemberdayaan masyarakat. Bagi para pelaku dakwah (da’i), hal yang dapat dilakukan terhadap klien mereka (umat), baik pada tingkatan individu, keluarga, kelompok ataupun komunitas adalah upaya memberdayakan (mengembangkan) umat dari keadaan tidak atau kurang mberdaya menjadi mempunyai daya guna mencapai kehidupan yang lebih baik. Ketika yang dihadapi adalah umat (masyarakat) yang berada pada garis kemiskinan, maka melalui komunikasi dakwah masyarakat tidak hanya memperoleh tentang pemahaman-pemahaman agama, namun juga mendapat bekal/keterampilan tertentu untuk merubah kondisi yang lebih sejahtera.

Sejarah “menceritakan” bahwa kemiskinan merupakan sesuatu yang tidak akan mungkin hilang, disisi lain pun sejarah “mengungkapkan” bahwa kemiskinan dalam aspek rohani (baca: haus akan kesucian, kebaikan, etika dan moralitas tinggi) akan terus terjadi pula karena sifat jiwa manusia yang agamawi. Untuk itu, kemiskinan bukanlah sesuatu yang aib, melainkan sesuatu yang harus diberdayakan masyarakatnya melalui komunikasi dakwah.

Paradigma kemiskinan memang perlu diubah. Kemiskinan selama ini dipersepsikans ebagai sesuatu yang aib. Oleh karena itu, kemiskinan tidak boleh terjadi. Pemikiran yang demikian harus diubah. Sebab tidak seorang pun di muka bumi ini yang menghendaki jadi miskin. Seluruh umat manusia menghajatkan hidup layak dan berkecukupan, yang bararti jauh dari kemiskinan. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan derajat manusia, kecuali orang yang taqwa. Bukan karena seseorang miskin kemudian dibenci, dihauhi, dipinggirkan dan seabgainya. Dalam komunikasi dakwah juga tidak membeda-bedakan si kaya dan si miskin. Yang membedakan adalah persoalan yang dihadapi masyarakat miskin menyangkut kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Para juru dakwah harus mampu meyakinkan kesejahteraan tidak hanya diukur dari aspek materi semata, karena materi dunia itu sifatnya sementara. Ada hal yang lebih utama yaitu kehidupan di akhirat yang lebih kekal. Namun bukan berarti penyelesaian persoalan kebutuhan ekonomi yang dihadapi masyarakat tidak penting. Dengan kehikhalasan, kejujuran dan kerja keras justru mendorong keberdayaan masyarakat itu sendiri. Kalau orang menganalogikan sebagia sesuatu yang aib, maka kemiskinan pun dianggap “setara” dengan penyakit berbahaya semacam AIDS, sampai-sampai media massa pun berusaha menutupi “borok bahaya” tersebut. Upaya ini justru menghambat dalam komunikasi pembangunan. Melalui berbagai cara baik yang dilakukan oleh pihak pemerintah mapun NGO dalam rangka memecahkan persoalah kemiskinan dalam berbagai sudut multi dimensi sektor. Beberapa definisi kemiskinan dimengerti sebagai: terbatasnya akses dan pemanfaatan SDA, terbatasnya interaksi sosial, terbatasnya pemilikan alat produksi, upah kecil, daya tawar rendah, tabubangan nihil, fatalisme, malas dan rasa terisolir, diharapkan dapat dikurangi seoptimal mungkin. Apabila kemiskinan di tinjau dari hal-hal diatas, maka kemiskinan jelas sekali tidak dilihat sebagai kekurangan materi, namun melingkupi berbagai aspek kehidupan manusia.

Melalui komunikasi dakwah yang berwujud tindakan-tindakan yang mampu memberdayakan kemampuan yang dimiliki sedikit banyak akan mengurangi beban yang dihadapi masayrakat dan akhirnya kemiskinan dapat dikurangi. Dalam menghadapi realitas kemiskinan akan lebih tepat disikapi dengan upaya mengurangi kemiskinan (poverty reduction), sebab sejauh ini sejarah mencatat bahwa prestasi terbaik yang mungkin dicapai oleh umat manusia adalah mengurangi kemiskinan, bukannya menghilangkan. Pilihan sikap yang cukup, akan mampu mengoptimalkan kebijakan, strategi dan program-program untuk mengurangi kemiskinan hingga angka terendah.

Penutup

Komunikasi dakwah merupakan upaya penyampaian infomasi menurut ajaran islam dengan tujuan untuk memengaruhi cara berfikir, bersikap dan berprilaku seseorang ke arah yang lebih positif. Keberhasilan komunikasi dakwah khususnya bagi masyarakat perdesaan tidak cukup dilakukan dengan ceramah di masjid (bil lisan), namun akan lebih tepat komunikasi dakwah yang dilakukan dengan bentuk tindakan (bil hal), yaitu komunikasi dakwah yang mampu memberikan sentuhan langsung bagi persoalan-persoalan mendasar bagi masyarakat perdesaan. Melalui dakwah bil hal diharapkan menunjang segi-segi kehidupan masyarakat, sehingga pada akhirnya setiap komunitas memiliki kemampuan untuk mengatasi kebutuhan dan kepentingan masyarakat, terutama hal-hal yang menyangkut bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat. Ketika masyarakat seakrang sedang dilanda berbagai ketimpangan, kesenjangan baik sosial, politik maupun ekonomi gerakan dalam komunikasi dakwah yang dituntut untuk lebih tampil sebagai pemandu, pembimbing, dan pengayom bagi masyarakat perdesaan. Setiap orang hendaknya berperan dalam kegiatan dakwah. Karena dalam rangka menyebarkan kebaikan keda semua orang wajib hukumnya. Kegiatan dalam komunikasi dakwah bagi masyarakat perdesaan tidak hanya menyangkut masalah-masalah agama semata, tetapi harus mampu memberikan jawaban yang menyangkut realitas hidup bagi masyarakat perdesaan.

Bagi pihak-pihak yang terlibat langsung dalam komunikasi dakwah di perdesaan dibutuhkan komitmen yang tinggi bahwa apa yang dilakukan itu semata-mata demi kesejahteraan masyarakat dengan berpegang pada al-qur’an dan al-sunnah. Untuk itu diperlukan kelompok-kelompok yang terorganisir dengan baik dan serta di dukung dengan dana yang mencukupi.

Komunikasi dakwah dapat ditunjukkan dalam rangka memberdayakan masayrakat, baik pada tingaktan individu, keluarga, komunitas terutama yang berada di bawah garis kemiskinan. Mereka tidak sekedar mendapatkan materi keagamaan, namun juga mendapatkan bantuan modal, keterampilan sehingga akan mengubah kondisi menjadi lebih sejahtera baik di dunia maupun di akhirat.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sanggar Anak Tangguh

Strong Children Strong Nation

What Planners Do

The Few, The Proud, The Planner

kalipaksi dot com

Melu Memayu Hayuning Bawono

ARDAN SIRODJUDDIN

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan pendidikan Indonesia

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

%d blogger menyukai ini: