Beranda > Uncategorized > Jaringan Pejalan Kaki

Jaringan Pejalan Kaki

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Pejalan kaki merupakan salah satu pengguna jalan yang memiliki hak dalam penggunaan jalan. Untuk itu, pada jaringan jalan perlu disediakan trotoar  bagi pejalan kaki. Hal ini juga untuk keamanan dan kenyamanan pejalan kaki yang menggunakan jalan tersebut.

Secara umum, kriteria jaringan jalan pejalan kaki adalah sebagai berikut:

  • Disediakan jalur jalan selebar 5 (lima) kaki
  • Dipinggir jalan (Arteri Sekunder dan Kolektor Sekunder)
  • Dikawasan Tertentu

Ruang pejalan kaki memiliki tipologi sebagai berikut:

  1. Ruang pejalan kaki di sisi jalan (Sidewalk), merupakan bagian dari sistem jalur pejalan kaki dari tepi jalan raya hingga tepi terluar lahan milik bangunan
  2. Ruang Pejalan Kaki di sisi Air (Promenade), ruang pejalan kaki yang pada salah satu sisinya berbatasan dengan badan air (danau, laut, sungai, atau kolam) dan sisi lainnya berupa jalan, tanaman, dan bangunan.
  3. Ruang Pejalan kaki di Tepi Bangunan (Arcade), ruang pejalan kaki yang berdampingan dengan bangunan pada salah satu atau kedua sisinya. Arcade umumnya disediakan pada kawasan perdagangan/komersial.
  4. Ruang Pejalan kaki di RTH (Green Pathway), merupakan ruang pejalan kaki yang terletak diantara ruang terbuka hijau agar pejalan kaki tidak berjalan di atas rumput atau tanaman yang ada di RTH/taman.
  5. Ruang Pejalan kaki di bawah tanah (Underground), ruang pejalan kaki yang terletak diantara ruang bawah tanah, Underground biasanya disediakan sebagai penghubung antar bangunan.
  6. Ruang pejalan kaki di atas tanah (elevated), ruang pejalan kaki berupa fasilitas penyebarangan tidak sebidang agar jalur  pedestrian yang ada  tidak terputus dan untuk memudahkan dalam pergantian jalur yang berbeda.

Penyediaan prasarana dan sarana ruang pejalan kaki ini harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Ruang yang direncanakan harus mampu untuk dapat diakses oleh seluruh pengguna (univesal design), termasuk jaminan bagi pengguna pejalan kaki dengan berbagai keterbatasan fisik.
  2. Lebar ruang pejalan kaki harus sesuai dengan standar prasarana.
  3. Harus memberikan kondisi aman, nyaman, ramah lingkungan, dan mudah untuk digunakan, sehingga pejalan kaki tidak harus terancam dengan lalu lintas yang dilalui.
  4. Terciptanya ruang sosial sehingga pelajan kaki dapat beraktivitas secara aman di ruang publik
  5. Terwujudnya keterpaduan sisitem , baik dari aspek penataan lingkungan atau dengan sistem transportasi atau aksesibilitas antar kawasan
  6. Terwujudnya perencanaan yang efektif dan efisien sesuai dengan tingkat kebutuhan dan perkembangan kawasan.

Prasarana ruang pejalan kaki adalah tempat penyeberangan bagi pejalan kaki, yaitu:

  1. Penyeberangan sebidang (At-Grade):
  • Penyeberangan Zebra
  • Penyeberangan Pelikan
  1. Penyeberangan  tidak sebidang:
  • Jembatan
  • Terowongan
  1. Marka untuk penyeberangan:
  • Zebra
  • Marka, berupa 2 (dua) garis untuk melintang jalur lalu lintas
  1. Penyeberangan di tengah ruas
  2. Penyeberangan di persimpangan

Sarana ruang pelajan kaki yaitu: drainase jalur hijau, street furniture (berupa lampu penerangan, tempat duduk, pagar pengaman, tempat sampah, tetepon umum). Marka dan perambu papan informasi (signage), halte bus, dan lapak tunggu. Selain itu, sarana ruang pejalan kaki yaitu difable (fasilitas yang disediakan untuk pejalan kaki dengan keterbatasan fisik, termasuk diantaranya penyandang cacat, orang sakit, ibu hamil, dan lain-lain) dan ramp (salah satu sarana bagi penyandang keterbatasan fisik yang ada jalur pedestrian, biasanya disediakan pada titik-titik perubahan tingkat lantai.

Penyediaan ruang pejalan kaki ini diprioritaskan pada:

  1. Kawasan perkotaan dengan tingkat kepadatan tinggi
  2. Jalan-jalan yang memiliki rute angkutan yang tetap
  3. Kawasan yang memiliki aktivitas yang tinggi, seperti pasar dan kawasan bisinis/komersil, dan jasa
  4. Lokasi-lokasi dengan tingkat mobilitas tinggi dan periode pendek, seperti stasiun, terminal, sekolah, rumah sakit, dan lapangan olah raga.
  5. Lokasi dengan mobilitas yang tinggi pada hari-hari tertentu, seperti lapagan/gelanggan olah raga dan tempat ibadah. (diolah dari berbagai sumber)
Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sanggar Anak Tangguh

Strong Children Strong Nation

What Planners Do

The Few, The Proud, The Planner

kalipaksi dot com

Melu Memayu Hayuning Bawono

ARDAN SIRODJUDDIN

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan pendidikan Indonesia

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

%d blogger menyukai ini: