Beranda > Uncategorized > PENGALAMAN DI SEKOLAH

PENGALAMAN DI SEKOLAH

Studi atas pengalaman SMK…

Bila ditanya tentang NEM matematika saat lulus SMK, maka aku pasti tidak akan lulus. Tetapi itu kalau aku masih bersekolah SMK saat ini. 3,25 tiga koma dua lima.!! Busyeet dah!! :              (untungnya saat itu, NEM kagak masuk hitungan. Yang penting lulus , its ok! kebayang saat ini (periode akhir tahun ajaran 2011) banyak siswa teladan yang tidak lulus gara-gara nilai matematika memble.
Bila mencermati sendiri sedikit sejarah saat masih sekolah, lucu. Aku masuk ke sekolah SMK favorit dengan NEM bagus, sehingga sangat mudah diterima. Saat masih es de, aku lulus sebagai rangking 1 sesekolahan dan se rayon. Tetapi begitu SMP, ada perubahan drastis dalam pola pikir aku atas apa yang terjadi di es de. Akhirnya aku lunglai dan merasa kalah. Aku masih teringat saat memprotes guru bahasa inggris yang metode pengajaran serta materi yang diajarkan, tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Waktu itu setiap pelajaran bahasa inggris hanya membaca dan menulis dari apa yang ditulis di papan tulis. Dan tahu tidak kalau semua yang dipelajari itu hanya seputar grammar. Hatiku berontak, sebab belajar bahasa inggris tujuannya untuk bisa berbasa inggris, tetapi yang ada justru kebalikannya. Bukan untuk bisa berbahasa inggris tapi mencetak siswa menjadi ahli sastra inggris…dalam hatiku mengatakan, kalau begini caranya kapan aku bisa berbahasa inggris??/ akhirnya apa yang ada dipikiranku itu, disampaikan ke guru bahasa inggris, karena perutku sudah capek dan sesak menahan-nahan untuk disampaikan. Tetapi apa jawaban yang kuperoleh???… guru bahasa inggris itu mengatakan “nilai kamu nul” artinya lebih rendah dari nol. Sejak saat itu hatiku tidak sreg dengan bahasa inggris yang dipelajari di sekolah. Sebab dalam pikiranku itu bukan yang kumau. Dengan kejadian itu hatiku makin sedih sebab ternyata begitu yang kudapat ditempat aku menimba ilmu.
Hixs!! Sumpah deh sediiih banget.
Akhirnya dari peristiwa itu,
Pola pikir aku berubah total. Buat apa mempelajari hal – hal yang diketahui semua orang tetapi tidak menghasilkan apapun. Akun space otak. Akhirnya aku menganggap sekolah dan pelajaran hanya sebagai “growing pain”, alias cuma penderitaan saat nunggu dewasa doang. Habis ada dirumah juga ngga ngerjain apapun, so daripada bengong aku berangkat ke sekolah. Sehingga di SMK aku selalu sukses menjadi ranking bawah dari 40 siswa sekelas. Untungnya masih lulus he…he….
Tapi suwer deh, statemen ini bukan untuk mempengaruhi temen2x sekalian. Aku anggap pola pikir aku yang melahirkan pemikiran demikian hanyalah bentuk kemalasan belajar saja. Walaupun ada peristiwa shock itu tetapi kalo aku tetep mau belajar, yaa tetep aja jadi bintang kelas.
Tetapi sejarah dan pengalaman di masa kecil memang bisa dan hampir selalu menimbulkan trauma psikologis. Bila hal ini tidak mampu ditangani oleh lingkungannya, maka biasanya akan menjadi asumsi / pembenaran berdasarkan pikiran diri sendiri. Dan pada akhirnya, penghargaan terhadap pemikiran orang lain berkurang atau (lebih parahnya) hilang.
Beberapa trauma memang memberikan dampak positif, yang mampu mengangkat seseorang menjadi different dalam arti positif. Di lain pihak, ada juga trauma yang membuat seseorang akhirnya tumbuh menjadi anti-sosial atau lebih parah lagi menjadi rebelis, vandalis, dan narsis.
Sebenarnya inilah salah satu hidden problem di masyarakat, menurut penilaian aku, adalah akibat adanya chaotic treatment yang berasal dari dalam. Yang akhirnya-nya, hal ini hanya akan dianalisa, dibahas, dan diperdebatkan, bila telah pecah menjadi konflik besar yang melibatkan bunuh-bunuhan dan saling menghancurkan.
Asumsinya, fundamental pola pikir terbentuk saat usia dini,
Lalu aku berpikir tentang bagaimana seharusnya pola pikir yang ideal itu?!
Hasilnya, adalah kolaborasi antara pengalaman traumatis dengan cure positif yang dijalankan oleh lingkungannya.
Pokoknya… darimanapun pola pikir itu terbentuk, dia (si pola pikir ini) merupakan dasar dan fondasi kita untuk menjadi manusia yang gagal atau berhasil. Idiih serem yaa?! Sebelumnya aku juga tidak sampai pada kesimpulan demikian, bila tidak ada hasil survey. Kelinci percobaan survey ini adalah beberapa temen sendiri (termasuk aku pribadi), karena kami semua memiliki pola pikir yang berbeda2x. Nah sebagian besar berhasil, tetapi dan ada juga teman yang kurang berhasil. Setelah dirunut2x melalui sejumlah interview, barulah aku berani mengambil kesimpulan bahwa pola pikir merupakan salah satu elemen esensial yang mampu membawa mereka ke kesuksesan atau kesengsaraan.
Untungnya pola pikir juga mengalami evolusi dan dinamis. Dia dapat berubah sesuai dengan kedewasaan seseorang. So, inilah jawaban kenapa manusia cenderung menjadi baik. Dan sedikit sekali orang yang akhirnya jadi psiko-maniak. Dibutuhkan banyak benturan (trauma) di sisi psikologi serta sisi pola pikir yang terus menerus (biasanya saat usia dini), sehingga seseorang menjadi lost.
Distribusi pola pikir,
Pola pikir mampu memagari seseorang dari pandangan2 yang ekstrim (di satu sisi). Tetapi di sisi lain pola pikir dapat menjadi senjata yang sempurna untuk mempengaruhi manusia atau sekelompok manusia dengan bentuk doktrin.
Disadari atau tidak, bila telah menyangkut komunitas, maka pola pikir akan ber-metamorfosa menjadi suatu yang lain yaitu visi. Dan visi merupakan dasar penjabaran… doktrin. Sehingga tidak ada orang di dunia ini secerdas apapun yang lepas dari pengaruh doktrin termasuk kita. Nah lho…
Sebagai ilustrasi, anak-anak harus sekolah agar pintar. Seorang karyawan harus mengikuti aturan agar tidak dipecat. Titel merupakan salah satu tangga untuk mendukung karir. Dan masih banyak lagi contoh lain dari sektor kampanye, mengapa memilih produk A dibanding B. mengapa memilih partai A dibanding B dan mengapa memilih calon A dibanding B. Tetapi ada perbedaan mendasar yang terkait dengan pola pikir massa atas komunitas legal (instansi, biro, perusahaan, dll) dengan komunitas umum (pola-pola kampanye atau periklanan).
Pola pikir pada komunitas legal biasanya memiliki konsekuensi. Sedangkan pada komunitas umum merupakan hak. Maka dari itu, memanfaatkan sistem distribusi pola pikir dalam lingkungan umum lebih rumit dan lebih memiliki seni dibandingkan dengan pada sistem usaha atau komunitas legal.
Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sanggar Anak Tangguh

Strong Children Strong Nation

What Planners Do

The Few, The Proud, The Planner

kalipaksi dot com

Melu Memayu Hayuning Bawono

ARDAN SIRODJUDDIN

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan pendidikan Indonesia

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

%d blogger menyukai ini: