Beranda > Uncategorized > Penulisan Skripsi Cenderung Hanya Memenuhi Formalitas

Penulisan Skripsi Cenderung Hanya Memenuhi Formalitas

Selain cenderung mempercepat masa studi, penghapusan kewajiban membuat skripsi sebagai prasyarat memperoleh gelar sarjana S-1 akan menghapuskan kecenderungan
pembuatan skripsi sekadar sebagai formalitas. Kecenderungan formalitas dalam pembuatan skripsi ini mengakibatkan skripsi dibuat asal-asalan, pembimbingan yang tidak serius, hingga timbulnya gejala penjiplakan.
Rektor IKIP Jakarta Prof Dr Anna Suhaenah mengemukakan hal itu kepada Kompas di Jakarta, Kamis (4/4), menanggapi kebijakan Universitas Indonesia menghapuskan kewajiban membuat skripsi bagi mahasiswanya sebagai prasyarat memperoleh gelar sarjana S-1. Anna Suhaenah mengungkapkan, IKIP Jakarta telah menghapus kebijakan membuat skripsi bagi calon sarjana S-1 sejak 1987. Dengan kebijakan itu, mahasiswa
memperoleh ujian komprehensif dengan atau tanpa skripsi. Namun setelah beberapa tahun kebijakan itu berjalan, ternyata lebih banyak mahasiswa yang memilih jalur skripsi.
“Jalur tanpa skripsi tidak berarti lebih ringan, sekalipun cenderung mempercepat kelulusan,” kata Anna Suhaenah.
Diakui, dengan kewajiban menulis skripsi, mahasiswa dipaksa berlatih berpikir secara sistematis, melakukan observasi, dan menuangkan gagasannya secara tertulis. Namun, kata Anna Suhaenah, seharusnya kemampuan-kemampuan itu bisa diperoleh tanpa harus menulis skripsi. Kemampuan menulis dan melakukan observasi mestinya diberikan pula dengan kewajiban-kewajiban menulis karya tulis (paper) dalam setiap mata kuliah.
Di banyak negara, kata Anna, pada tingkat S-2 (master) pun tidak ada kewajiban menulis skripsi. Mereka boleh memilih jalur riset atau tanpa riset (course work). “Di Indonesia banyak perguruan tinggi mewajibkan mahasiswanya menulis skripsi, bahkan di tingkat non-gelar sekali pun. Akibatnya skripsi hanya menjadi formalitas,” kata Anna Suhaenah.
Memperlambat studi
Menurut Anna Suhaenah, pembuatan skripsi cenderung memperlama masa studi. Seseorang yang tidak terbiasa menulis, akan menghabiskan waktu sampai dua tahun atau lebih untuk menulis skripsi. Belum lagi hambatan-hambatan yang bersifat prosedural, yakni kesulitan mahasiswa menemui dosen pembimbingnya.
Anna Suhaenah berpendapat, dari segi penguasaan keilmuannya, tidak ada perbedaan antara mereka yang lulus dengan atau tanpa menulis skripsi. Ia mengemukakan, di IKIP Jakarta khususnya di Jurusan Bahasa Inggris dan Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, banyak mahasiswa berjatuhan saat menghadapi ujian komprehensif jalur nonskripsi. Pada saat ujian komprehensif tanpa skripsi, akan terjaring mahasiswa yang kurang menguasai konsep-konsep dasar ilmu yang dipelajarinya.
“Mahasiswa justru cenderung menulis skripsi karena ujian komprehensif jalur skripsi lebih terfokus pada apa yang tertulis dalam skripsi saja,” kata Anna Suhaenah.
Dengan penghapusan kewajiban menulis skripsi sebagai prasyarat memperoleh gelar sarjana S-1 itu, menurut dia, tidak relevan membatasi calon mahasiswa S-2 hanya dari mereka yang mengikuti jalur skripsi. Apalagi kenyataannya, banyak orang yang harus melanjutkan pendidikannya ke tingkat S-2 tanpa rencana sebelumnya.
Pihak IKIP Jakarta, kata Anna Suhaenah, kini sedang mempersiapkan materi matrikulasi bagi mahasiswa S-1 jalur nonskripsi yang ingin melanjutkan pendidikannya ke S-2. Misalnya, dengan mewajibkan mereka untuk membuat desain penelitian.

Prof Dr Anna Suhaenah:
Kompas online Sabtu, 06 April 1996. Jakarta, Kompas

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Sanggar Anak Tangguh

Strong Children Strong Nation

What Planners Do

The Few, The Proud, The Planner

kalipaksi dot com

Melu Memayu Hayuning Bawono

ARDAN SIRODJUDDIN

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan pendidikan Indonesia

O. Solihin

katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit

%d blogger menyukai ini: